BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Kebutuhan akan teknologi pertanian yang sederhana, murah, dan mudah diterapkan menjadi latar lahirnya inovasi mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3), mereka merancang Solar Powered Automatic Irrigation System, sebuah sistem irigasi tetes otomatis berbasis energi surya yang ditujukan untuk memberdayakan petani kecil dan meningkatkan produktivitas pertanian rakyat secara berkelanjutan.
Inovasi ini digagas oleh Isti Rohmania, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2023, bersama timnya. Berangkat dari realitas lapangan, mereka melihat banyak petani masih mengandalkan penyiraman manual yang menyita tenaga, waktu, dan biaya operasional, sekaligus berisiko tinggi terhadap pemborosan air dan ketidakefisienan distribusi irigasi.
Melalui sistem irigasi berbasis tenaga surya ini, petani tidak lagi bergantung pada listrik konvensional. Panel surya berfungsi sebagai sumber energi utama yang menggerakkan sistem berbasis Arduino, sementara sensor kelembapan tanah memastikan air hanya dialirkan saat tanaman benar-benar membutuhkan.
“Dengan sistem ini, petani tidak perlu menyiram secara manual setiap hari. Air digunakan lebih hemat, tenaga lebih ringan, dan biaya operasional bisa ditekan,” ujar Isti, dikutip dari laman resmi UMM, Sabtu (7/2/2026).
Baca Juga:
Mahasiswa UMS Ciptakan QryptoPay, Inovasi Kripto–QRIS untuk Menggerakkan UMKM
Sebagai prototipe, sistem ini memang masih diterapkan dalam skala terbatas. Namun desainnya fleksibel dan mudah disesuaikan dengan berbagai jenis tanaman serta kondisi lahan pertanian rakyat, mulai dari kebun sayur, tanaman hortikultura, hingga pertanian pekarangan.
Keunggulan utama inovasi ini terletak pada aksesibilitas teknologi. Sistem dirancang agar tidak rumit, tidak mahal, dan bisa dikembangkan secara bertahap sesuai kemampuan ekonomi petani. Ke depan, teknologi ini bahkan berpotensi dikembangkan untuk penyaluran pupuk cair, nutrisi, dan vitamin tanaman secara otomatis, sehingga perawatan tanaman menjadi lebih presisi tanpa menambah beban kerja petani.
Bagi tim pengembang, proyek ini bukan sekadar tugas akademik, tetapi bentuk kontribusi nyata kampus terhadap persoalan riil masyarakat desa dan sektor pertanian kecil.
“Kami ingin teknologi ini benar-benar bisa dipakai, bukan hanya dipamerkan. Inovasi harus bisa menjawab kebutuhan petani, bukan sekadar terlihat canggih,” tutur Isti.
Dosen pembimbing, Amelia Khoidir, S.T., M.Sc., menilai inovasi ini sebagai contoh nyata teknologi tepat guna yang berangkat dari kebutuhan masyarakat. Menurutnya, integrasi teknologi IoT dalam sistem irigasi presisi seperti ini membuka peluang besar untuk modernisasi pertanian rakyat yang inklusif dan berkelanjutan.
“Inovasi ini tidak hanya cerdas secara teknologi, tapi juga relevan secara sosial. Dampaknya bisa langsung dirasakan petani kecil,” jelasnya.
Capaian dalam Industrial Engineering Expo 2026 UMM memperkuat bahwa pembelajaran berbasis proyek di Teknik Industri UMM mampu melahirkan inovasi yang berorientasi pada dampak, bukan sekadar nilai akademik. Solar Powered Automatic Irrigation System menjadi simbol bagaimana mahasiswa bisa menjadi agen perubahan dalam transformasi pertanian rakyat menuju sistem yang lebih efisien, mandiri energi, dan berkelanjutan.











