BEKASI, TEROPONGMEDIA.ID – Di tengah kesibukannya sebagai figur politik dan legislator Jawa Barat, Akhmad Marjuki menunjukkan bahwa kedekatan dengan Sang Pencipta dan tradisi spiritual adalah kompas utama dalam menjalankan amanah publik.
Kehadirannya dalam pengajian Manaqiban baru-baru ini bukan sekadar memenuhi undangan, melainkan bentuk takzim terhadap nilai-nilai luhur yang dijaga oleh para ulama dan jamaah.
Bagi Marjuki, menghadiri majelis ilmu dan dzikir seperti Manaqiban adalah sarana untuk melakukan “cas spiritual” agar setiap kebijakan yang diambil tetap berlandaskan pada moralitas dan empati.
Manaqib sebagai Inspirasi Keteladanan
Dalam sambutannya di hadapan para jamaah, Marjuki menekankan bahwa membaca riwayat hidup (manaqib) para kekasih Allah (waliyullah) adalah upaya untuk meneladani kegigihan dan kesabaran mereka dalam menebar kebaikan. Ia melihat ada korelasi kuat antara keteladanan spiritual dengan integritas seorang pemimpin.
“Membaca Manaqib bukan sekadar mengharap berkah, tapi bagaimana kita mencuri rahasia kesuksesan para ulama dalam mencintai rakyat dan Tuhannya. Seorang pemimpin harus memiliki hati yang tenang, dan ketenangan itu ada di majelis-majelis seperti ini,” ujar Akhmad Marjuki.
Memperkuat Ukhuwah di Arus Modernisasi
Di wilayah Kabupaten Bekasi yang kini menjadi kawasan industri raksasa, tradisi pengajian Manaqiban dianggap sebagai “benteng terakhir” dalam menjaga persaudaraan antarwarga. Marjuki menilai bahwa di sinilah tempat di mana sekat-sekat status sosial melebur menjadi satu kesatuan jamaah.
Poin-poin penting yang disoroti Marjuki dalam momentum tersebut meliputi:
Stabilitas Sosial: Pengajian rutin menciptakan lingkungan yang damai dan rukun, yang secara tidak langsung membantu tugas pemerintah dalam menjaga kondusifitas daerah.
Pendidikan Karakter: Melalui pesan-pesan moral di pengajian, generasi muda dibentengi dari pengaruh negatif pergaulan bebas dan radikalisme.
Doa untuk Bangsa: Marjuki mengajak para jamaah untuk menyelipkan doa bagi kemajuan pembangunan di Jawa Barat agar selalu diberkahi dan dijauhkan dari marabahaya.
Politik yang Bernapaskan Keagamaan
Gaya pendekatan Marjuki yang religius dan inklusif semakin mempertegas posisinya sebagai pemimpin yang “nyantri”. Ia meyakini bahwa keberhasilan pembangunan fisik di Bekasi dan Jawa Barat tidak akan sempurna tanpa pembangunan batiniah masyarakatnya.
“Pemerintah membangun jalannya, ulama membangun jiwanya. Sinergi inilah yang akan membawa Bekasi menjadi daerah yang baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur. Saya berkomitmen untuk terus mengawal agar syiar-syiar keagamaan seperti ini terus mendapat ruang dan dukungan,” tutupnya.











