BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Manajer Umum Ducati, Gigi Dall’Igna, tak dapat menutupi kekagumannya terhadap Marc Marquez setelah sang juara dunia tujuh kali itu meraih gelar MotoGP 2025. Dalam ulasan resmi Ducati, Dall’Igna menggambarkan Marquez sebagai sosok yang “lahir kembali”, hadir bukan hanya sebagai pebalap tercepat, tetapi juga sebagai simbol kebangkitan baru yang mengubah wajah Ducati.
Gelar tahun ini bukan sekadar trofi tambahan bagi Marquez. Setelah cedera parah pada 2020 dan bertahun-tahun terseok-seok di Honda, kemenangan ini menjadi bukti bahwa Marquez kembali dalam bentuk terbaiknya. Bahkan lebih menakutkan dari era dominasi lamanya.
Ducati pun kembali tak tertandingi. Mereka menyapu bersih gelar pebalap, tim, dan konstruktor, menandai era keemasan baru yang semakin tegas berada di bawah kendali “Marc Marquez versi Ducati”.
Baca Juga:
Marco Bezzecchi Siap Bangkit Bersama Aprilia di MotoGP 2025
Marquez yang Baru: Haus Kemenangan Seperti Rookie, Tenang Seperti Legenda
Dall’Igna menulis dengan antusias, menyajikan statistik luar biasa Marquez sepanjang 2025:
- 545 poin
- 11 kemenangan Grand Prix
- 8 pole position
- 14 kemenangan Sprint
Marquez juga menjadi pebalap Ducati pertama dalam sejarah yang meraih 15 kemenangan beruntun (Sprint + Race) dan 11 podium beruntun. Angka-angka yang bahkan membuat era keemasan Casey Stoner tampak jinak.
Namun bagi Dall’Igna, statistik hanya bagian kecil dari cerita besar. Yang membuatnya terkesan adalah karakter Marquez.
“Ia punya kemauan seorang rookie dan pengalaman seorang veteran. Ada kilau baru di matanya,” tulis Dall’Igna, melansir MotoGP, Senin (8/12/2025).
Marquez datang ke Ducati bukan sebagai superstar yang meminta perlakuan khusus. Ia justru memulai dari tim satelit, membangun semuanya dari nol, dan mendaki kembali untuk merengkuh puncak.
Perjalanan itu disebut Dall’Igna sebagai kisah yang lebih besar dari sekadar olahraga, melainkan kisah manusia yang melawan keraguan, cedera, dan usia.
Kebangkitan Marquez musim ini berbanding terbalik dengan perjalanan Francesco Bagnaia. Juara dunia dua kali itu justru mengalami musim paling berat sejak debutnya di kelas premier.
Meskipun sempat menunjukkan performa gemilang di GP Jepang, Bagnaia tak pernah benar-benar “menyatu” dengan GP25. Ia menutup musim dengan:
- Lima kali gagal finis di balapan utama
- Inkonsistensi setup
- Rentetan insiden dan kesialan yang menggerus mental
Dall’Igna pun tak menyalahkan Bagnaia sepenuhnya. Menurutnya, nasib buruk ikut memperparah keadaan.
“Ketika kesialan ikut campur, segalanya menjadi jauh lebih sulit,” ujarnya.
Meski demikian, musim 2026 bakal menjadi persaingan internal paling panas dalam sejarah Ducati. Marquez datang sebagai monster baru, sementara Bagnaia mencoba bangkit untuk merebut kembali tahtanya.
(Budis)









