BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Kegembiraan Matheus Cunha usai mencetak gol kemenangan spektakuler Manchester United atas Arsenal berpotensi berubah menjadi penyesalan panjang. Penyerang Brasil berusia 26 tahun itu kini terancam sanksi larangan bermain dua pertandingan akibat teriakan eksplisit yang dilontarkannya langsung ke kamera televisi.
Insiden terjadi pada menit ke-87 saat Cunha merayakan gol jarak jauh yang merobek gawang David Raya. Dalam euforia kemenangan 3-2 Manchester United di Emirates Stadium akhir pekan lalu, Cunha yang masuk sebagai pemain pengganti tertangkap kamera meneriakkan kata-kata tidak pantas ke arah lensa siaran langsung.
Komentator Sky Sports, Peter Drury, bahkan langsung meminta maaf kepada penonton.
“Jika Anda mendengar bahasa yang tidak pantas di tengah perayaan itu, kami mohon maaf.”
Regulasi Keras FA
Menurut regulasi Federasi Sepakbola Inggris (FA), penggunaan bahasa yang bersifat ofensif, menghina, atau kasar merupakan pelanggaran disipliner serius yang dapat berujung kartu merah. Lebih jauh, FA memiliki kewenangan untuk menjatuhkan sanksi retroaktif terhadap insiden yang terekam kamera, meski tidak disaksikan langsung oleh wasit di lapangan.
Hukum permainan IFAB juga menegaskan bahwa umpatan yang diarahkan langsung ke kamera televisi dianggap sebagai tindakan indisipliner yang jelas, disengaja, dan mencoreng citra permainan. Poin inilah yang berpotensi memberatkan Cunha.
Jika terbukti bersalah, Cunha terancam absen saat Manchester United menjamu Fulham pada 1 Februari, serta laga kandang kontra Tottenham Hotspur enam hari kemudian—dua pertandingan krusial dalam perburuan tiket Liga Champions.
Baca Juga:
Kemenangan MU 2-0 Jadi Konten Absurd Akun Pemerintah dan Sekolah
Rooney, Drogba, dan Sejarah Buruk Premier League
Kasus Cunha bukan yang pertama. Premier League memiliki sejarah panjang soal hukuman terhadap pemain yang kehilangan kendali emosi di depan kamera.
Kasus paling ikonik terjadi pada April 2011, ketika Wayne Rooney meledak ke kamera usai mencetak hat-trick saat Manchester United menang 4-2 atas West Ham. Teriakan “What? F***ing what?” membuat Rooney diganjar skorsing dua pertandingan, termasuk semifinal Piala FA melawan Manchester City yang akhirnya berujung kekalahan United.
Hukuman lebih berat pernah menimpa Didier Drogba. Usai Chelsea tersingkir dramatis dari Barcelona di semifinal Liga Champions 2009, Drogba meluapkan amarahnya ke kamera dengan kalimat keras yang ditujukan pada wasit Tom Henning Øvrebø. UEFA menjatuhkan skorsing enam laga Eropa, yang kemudian dikurangi menjadi empat setelah banding.
Kasus Drogba menjadi preseden kuat bahwa otoritas sepakbola tak mentolerir tindakan yang merusak citra olahraga di hadapan jutaan penonton.
Akankah Cunha Lolos?
Hingga kini, FA belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait penyelidikan terhadap Cunha. Namun, peluang mantan striker Wolves itu untuk lolos dari sanksi terbilang kecil, mengingat insiden tersebut menyebar luas di media sosial dan tayangan ulang.
Menariknya, Cunha justru terkesan tak ambil pusing. Lewat Instagram, ia mengunggah foto selebrasi bersama suporter United di tribun tandang dengan caption provokatif: “The freaking biggest.” Sebuah sikap yang bisa dianggap memperkeruh situasi di tengah ancaman hukuman.
Analisis Singkat
Kasus Cunha kembali menegaskan bahwa sepakbola modern adalah panggung global tanpa ruang privasi. Emosi memang bagian dari permainan, tetapi di era siaran langsung dan media sosial, satu ucapan bisa berubah menjadi kontroversi besar.
Berbeda dari Rooney atau Drogba yang bereaksi karena amarah dan protes, Cunha melakukannya dalam euforia. Namun bagi FA, niat bukan faktor utama tindakanlah yang dinilai.
(Magang UIN Bandung/Adit Ramadhan)











