JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Gelombang protes yang mengguncang Indonesia sepanjang Agustus 2025 tidak hanya menimbulkan keresahan di dalam negeri, tetapi juga menarik perhatian para pengamat internasional. Sejumlah analis geopolitik menilai, dinamika ini tak bisa dilepaskan dari kemungkinan adanya intervensi asing yang menjadikan isu ekonomi rakyat sebagai pintu masuk.
Dalam laporan media Rusia Sputnik, analis geopolitik Angelo Giuliano menyoroti dua lembaga internasional milik George Soros yakni National Endowment for Democracy (NED) dan Open Society Foundations (OSF)
Giuliano mengatakan, bahwa kedua lembaga tersebut sudah lama aktif di Indonesia sejak 1990-an, terutama melalui dukungan kepada media dan kelompok tertentu.
“Kalau melihat pola gerakan, ini bukan hal baru. Ada benang merah dengan strategi Barat di kawasan Indo-Pasifik, apalagi di tengah memanasnya situasi Thailand-Kamboja,” kata Giuliano, dikutip Rabu (3/9/2025).
Ia juga menyinggung fenomena penggunaan simbol bendera bajak laut dari anime Jepang One Piece yang terlihat di sejumlah lokasi protes. Menurut Giuliano, pola semacam itu menyerupai taktik simbolik dalam beberapa “revolusi warna” di negara lain.
“Keluhan massa mungkin soal ekonomi, tapi simbol-simbol itu mengisyaratkan ada arahan dari luar,” tambahnya.
Pandangan senada datang dari analis Jeff J Brown. Ia menyebut posisi Indonesia yang kini menjadi anggota BRICS pertama di Asia Tenggara, serta mitra penting Tiongkok dalam Belt and Road Initiative (BRI), menjadikannya target potensial dari “rekayasa politik” ala Barat.
“Dengan populasi mendekati 300 juta jiwa, ekonomi terbesar di ASEAN, dan peringkat delapan dunia berdasarkan PPP, Indonesia pasti jadi perhatian,” ujar Brown.
Analisis internasional ini semakin relevan bila dikaitkan dengan peringatan mantan Kepala BIN AM Hendropriyono. Ia menilai, gelombang protes mahasiswa di DPR tidak sepenuhnya lahir dari aspirasi murni, melainkan bisa saja ditunggangi kekuatan eksternal yang ingin menguji ketahanan nasional.
“Karena saya tahu, saya tidak lebih pintar dari kalian. Tapi saya mengalami semua. Dan ini ada yang main. Pada waktunya saya bisa sampaikan namanya. Itu dari sana (pihak asing),” kata Hendropriyono, melansir CNN.
Gelombang aksi Agustus 2025 sendiri bergeser cepat dari tuntutan ekonomi menjadi kericuhan anarkistis. Pada titik inilah, dugaan adanya infiltrasi agenda asing semakin menguat.
Meski demikian, pemerintah tetap menegaskan bahwa hak rakyat untuk menyampaikan pendapat harus dihormati selama dilakukan secara damai. Namun, peringatan Presiden Prabowo tentang gejala makar, analisis geopolitik internasional, serta sinyal Hendropriyono memberi satu pesan bahwa Indonesia sedang berada di persimpangan geopolitik global, di mana setiap langkahnya berpotensi menjadi sasaran permainan kekuatan luar.
Latar Belakang George Soros
Sebagai Informasi, George Soros lahir dengan nama György Schwartz pada 12 Agustus 1930 di Budapest, Hungaria. Ia dikenal sebagai seorang investor dan filantropis Hungaria-Amerika keturunan yahudi yang selamat dari pendudukan Nazi dan melanjutkan studi hingga meraih gelar Sarjana dan Magister Filsafat dari London School of Economics.
Soros memulai karier dengan membentuk Soros Fund Management dan dikenal secara internasional setelah melakukan spekulasi besar terhadap pound sterling pada “Black Wednesday”, hingga mendapatkan julukan “the man who broke the Bank of England”
Ia juga mendirikan Open Society Foundations (OSF) pada akhir 1970-an, yang kini menjadi salah satu jaringan filantropi swasta terbesar di dunia. Yayasan ini mendukung beragam lembaga sipil di lebih dari 120 negara yang fokus pada upaya demokrasi, kesetaraan, keadilan, serta transparansi pemerintahan.
Melansir The Guardian, Meskipun dipuji atas sumbangsihnya terhadap demokrasi dan hak asasi manusia, Soros juga sering menjadi sorotan kontroversi. Beberapa pihak menuduhnya sebagai aktor geopolitik yang campur tangan dalam politik nasional sebuah negara.
(Dist)


