JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Klausul degradasi menjadi perbincangan hangat di dunia sepak bola setelah muncul laporan mengenai kontrak pemain Tottenham Hotspur yang terancam pemotongan gaji jika klub terdegradasi dari Premier League.
Isu tersebut muncul setelah media Inggris melaporkan bahwa sebagian besar pemain Spurs memiliki klausul khusus yang memungkinkan pengurangan gaji hingga sekitar 50 persen jika tim harus turun kasta ke EFL Championship.
Klausul seperti ini sebenarnya bukan hal baru dalam sepak bola profesional. Banyak klub memasukkannya sebagai langkah perlindungan finansial jika pendapatan klub anjlok akibat degradasi.
Klausul Degradasi Bukan Aturan Wajib
Secara regulasi internasional, baik FIFA maupun UEFA tidak memiliki aturan yang mewajibkan pemotongan gaji pemain ketika klub terdegradasi.
Gaji pemain sepenuhnya diatur dalam kontrak kerja yang ditandatangani antara pemain dan klub. Artinya, status degradasi sebuah tim tidak otomatis membuat klub dapat memotong gaji pemain secara sepihak.
Namun, klub dan pemain dapat menyepakati klausul tambahan yang mengatur kondisi tertentu dalam kontrak. Salah satunya adalah klausul degradasi.
Jika klausul tersebut dicantumkan dalam kontrak, maka pemotongan gaji dapat berlaku secara otomatis sesuai kesepakatan yang telah ditandatangani kedua pihak.
Mekanisme Klausul Degradasi dalam Kontrak
Dalam kontrak pemain profesional, klausul degradasi biasanya masuk dalam kategori contingency clause, yaitu klausul yang berlaku jika terjadi kondisi tertentu.
Secara umum, klausul tersebut berbunyi bahwa jika klub terdegradasi ke divisi yang lebih rendah pada akhir musim, maka gaji dasar pemain akan dikurangi dengan persentase tertentu pada musim berikutnya.
Pemotongan gaji ini tidak berlaku selama musim kompetisi masih berjalan. Pengurangan baru berlaku setelah degradasi resmi ditetapkan secara administratif pada akhir musim.
Dengan mekanisme ini, klub tidak perlu melakukan negosiasi ulang dengan pemain karena aturan tersebut sudah disepakati sejak awal kontrak.
Contoh Kebijakan di Liga Italia
Contoh penerapan klausul degradasi secara sistematis dapat ditemukan di Serie A.
Mulai musim 2025/2026, kompetisi sepak bola tertinggi Italia tersebut menerapkan aturan baru yang memungkinkan pemotongan gaji pemain hingga 25 persen jika klub terdegradasi ke Serie B.
Kebijakan ini berlaku untuk pemain yang menandatangani kontrak baru setelah 2 September 2025. Jika klub berhasil promosi kembali ke Serie A, gaji pemain dapat kembali ke nilai semula.
Meski demikian, perlindungan gaji minimum berdasarkan usia pemain tetap dipertahankan sesuai regulasi ketenagakerjaan di Italia.
Risiko Hukum Jika Klub Memotong Gaji Sepihak
Kontrak pemain sepak bola profesional memiliki kekuatan hukum yang sama dengan kontrak kerja pada umumnya.
Karena itu, klub tidak dapat memotong gaji pemain secara sepihak tanpa adanya klausul khusus yang mengatur kondisi tersebut.
Jika klub melakukan pemotongan tanpa dasar kontrak, pemain berhak mengajukan sengketa ke badan penyelesaian konflik sepak bola nasional atau internasional.
Dalam beberapa kasus, klub bahkan dapat menghadapi sanksi berupa denda finansial hingga larangan melakukan transfer pemain.
Hal ini menunjukkan bahwa degradasi tidak otomatis membatalkan kewajiban klub untuk membayar gaji pemain sesuai kontrak.
Baca Juga:
Prediksi Skor Atletico Madrid vs Real Sociedad Laliga 2025/2026, Kedua Tim Dalam Mode Gacor
Alasan Klub Menerapkan Klausul Degradasi
Alasan utama klub memasukkan klausul degradasi adalah faktor ekonomi.
Pendapatan klub dapat turun drastis ketika mereka terdegradasi dari liga utama. Penurunan terbesar biasanya berasal dari hak siar televisi yang nilainya bisa berkurang lebih dari 50 persen.
Selain itu, sponsor utama juga sering menurunkan nilai kerja sama karena eksposur klub menurun di divisi yang lebih rendah.
Di liga dengan nilai komersial besar seperti Premier League, selisih pendapatan antara kasta tertinggi dan divisi kedua bisa mencapai ratusan juta pound per musim.
Tanpa adanya klausul degradasi dalam kontrak pemain, klub berisiko mengalami tekanan finansial serius yang bahkan dapat berujung pada krisis keuangan.
(Dist)










