BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Meski hujan mulai rutin mengguyur Kota Bandung, potensi kebakaran rupanya masih tinggi. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPMKP) Kota Bandung mengingatkan masyarakat agar tetap waspada, karena sebagian besar kasus kebakaran di musim hujan justru disebabkan oleh faktor teknis dan kelalaian manusia.
Kepala Bidang Penyelamatan DPMKP Kota Bandung, Imanuel Situmorang, menjelaskan meningkatnya kelembapan udara memang menurunkan risiko api dari sumber alami, namun tidak sepenuhnya menghilangkan ancaman kebakaran di wilayah padat penduduk.
“Walaupun sudah sering turun hujan, bukan berarti risiko kebakaran otomatis menurun drastis. Justru di musim seperti ini, korsleting listrik dan kelalaian di dapur sering jadi penyebab utama,” kata Imanuel, Kamis (6/11/2025).
Menurutnya, korsleting listrik akibat kabel lembap atau rusak menjadi salah satu pemicu paling sering. Selain itu, penggunaan kompor atau alat pemanas tanpa pengawasan, serta pembuangan puntung rokok sembarangan juga kerap menimbulkan insiden kebakaran, terutama di kawasan padat.
“Kelembapan tinggi bisa membuat kabel yang sudah rapuh makin berisiko. Kalau arus pendek terjadi di rumah padat penduduk, api bisa cepat menyebar sebelum sempat dikendalikan,” ucapnya.
Baca Juga:
Kebakaran Melanda Bangunan di Situ Gunting Jalan Soekarno Hatta Bandung
Petugas Berjibaku Padamkan Kebakaran Gudang Gentong Drum di Jalan Soekarno Hatta Bandung
Kendati demikian, Imanuel mengapresiasi meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya kebakaran. Menurutnya, warga kini lebih cepat melapor ketika melihat api atau asap, meski masih perlu peningkatan dalam hal penanganan awal dan pemeriksaan instalasi listrik secara rutin.
“Warga sekarang lebih sigap, tapi harus lebih disiplin memastikan peralatan listrik dan kompor aman sebelum digunakan. Banyak kasus bisa dicegah kalau masyarakat lebih teliti,” ujarnya.
Sebagai langkah pencegahan, DPMKP terus menggencarkan sosialisasi pencegahan kebakaran ke lingkungan RW dan sekolah. Edukasi meliputi penggunaan alat pemadam api ringan (APAR), cara evakuasi darurat, hingga prosedur pelaporan ke petugas.
“Kami ajarkan masyarakat supaya tidak panik dan tahu langkah pertama sebelum petugas datang. Berdasarkan pengalaman, 80 persen kebakaran bisa diminimalkan kalau warga tahu cara bertindak cepat,” katanya.
Imanuel juga mengingatkan masyarakat agar segera menghubungi layanan darurat 113 atau 112 bila melihat tanda-tanda kebakaran, dan tidak mencoba memadamkan api besar tanpa perlengkapan memadai.
“Musim hujan bukan berarti bebas dari kebakaran. Justru banyak faktor teknis yang bisa memicu api. Karena itu, kewaspadaan masyarakat dan kesiapsiagaan petugas jadi kunci utama untuk menekan risiko,” pungkasnya.
(Kyy/_Usk)











