BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Jelang Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-9 Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Jawa Barat, dinamika pemilihan pimpinan baru mulai menghangat. Namun di balik itu, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LDII memastikan tidak akan melakukan intervensi terhadap proses pemilihan di daerah. Sikap ini diambil untuk menjaga kondusivitas dan mencegah konflik berkepanjangan.
Ketua Umum LDII Chriswanto Santoso menegaskan pemilihan di tingkat provinsi sepenuhnya merupakan mandat 27 DPD kabupaten/kota.
“Kami di DPP tidak mendrive daerah. Dalam kompetisi pasti ada yang menang dan kalah, dan biasanya yang kalah ini yang jadi masalah. Karena itu kami memberi kebebasan penuh kepada daerah,” kata Santoso, Jumat (14/11/2025).
Santoso menyebut penilaian terhadap calon pimpinan, termasuk kemungkinan petahana kembali terpilih, sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme Muswil.
“Ini urusan agama, lembaga dakwah. Alangkah malunya kalau pemilihan malah menimbulkan pertengkaran. Jadi kami ingin semuanya tenang, jernih, dan tidak terjadi perpecahan,” ucapnya.
Baca Juga:
Terkait jumlah bakal calon, Santoso menjelaskan saat ini masih banyak nama yang muncul. Namun biasanya, setelah para pengurus berkumpul dan berdiskusi, proses akan mengerucut secara alami.
“Orang biasanya realistis. Kalau merasa peluang kecil, mereka legowo mundur. Jadi tidak ada pemaksaan,” ujarnya.
Santoso menjelaskan figur yang diharapkan memimpin DPW Jabar ke depan adalah mereka yang mampu membangun sinergi dengan pemerintah provinsi.
“Kami punya kekuatan sosial, sementara Pemprov punya kekuatan otoritas. Sinergi keduanya penting agar program pemerintah bisa diterapkan langsung ke masyarakat bawah,” jelasnya.
Santoso juga menyebut LDII kerap berperan sebagai compiler program pemerintah, terutama di bidang pendidikan melalui komunikasi dengan Kemendikdasmen.
“Program yang baik dari Pemprov kita adopsi. Program kami yang baik juga bisa diambil pemerintah. Intinya, saling menguatkan untuk masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua DPW LDII Jawa Barat Dicky Harun yang kini kembali menjadi perhatian jelang Muswil mengaku optimis terhadap hasil pemilihan.
“Insya Allah 100 persen. Tapi tentu dinamika di lapangan bisa berbeda,” ujar Dicky.
Meski demikian, Dicky menegaskan pentingnya regenerasi yang elegan.
“Pergantian harus smart, cerdas, dan landai. Pemimpin itu figur inspirator, bukan eksekutor. Tim-lah yang bekerja. Ketua tidak boleh jadi kultus,” katanya.
Dicky juga mengaku siap jika kembali diamanahi jabatan.
“Sebagai seorang muslim, kalau mendapat amanah tentu saya siap,” ucapnya.
Ke depan, dirinya menekankan program pembangunan LDII harus berjenjang, tidak loncat-loncat.
“Apa yang sudah berjalan kita lanjutkan, kita perbaiki. Prinsip utamanya tetap pada penguatan dakwah,” terangnya.
Meski Jawa Barat dinilai sebagai provinsi dengan kinerja baik, ia tak menampik adanya dorongan dari sebagian DPD untuk memilih pemimpin yang lebih muda.
“Tapi sebenarnya kita juga masih muda,” ujarnya sambil tersenyum.
Menutup arahannya, Santoso menegaskan filosofi dasar kepemimpinan di lembaga dakwah yakni pimpinan bukan membangun kekuasaan melainkan membangun kepercayaan.
“Anda sekuat apa pun kalau tidak dipercaya, tidak akan jalan. Kalau amanah, jujur, dan bisa dipercaya, insya Allah tidak ada yang mengganti,” pungkasnya.
Dengan suasana yang semakin mengerucut namun tetap kondusif, Muswil LDII Jawa Barat ke-9 diharapkan melahirkan pemimpin yang kolaboratif, berintegritas, dan mampu memperkuat peran LDII dalam pembangunan masyarakat dan bangsa.
(Kyy/_Usk)











