JAKARTA, TEROPONGEMDIA.ID — Harga emas dunia melonjak sekitar 3% pada perdagangan, Rabu (28/1/2026). Penguatan emas terjadi bersamaan dengan lonjakan tajam harga perak, yang kembali mencuri perhatian pasar komoditas global.
Reli ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai di tengah kombinasi risiko geopolitik, ketegangan perdagangan, dan kekhawatiran terhadap stabilitas kebijakan moneter global.
Perak Hampir Sentuh Rekor, Reli Masih Berpotensi Berlanjut
Harga perak spot mencatat lonjakan signifikan sebesar 7,7% ke level US$ 111,84 per ons troi, mendekati rekor tertinggi sebelumnya di US$ 117,69 per ons troi.
Sepanjang tahun ini saja, harga perak telah melonjak lebih dari 57%, setelah mencatat kenaikan ekstrem 146% sepanjang 2025.
Ahli strategi komoditas Bank of America, Michael Widmer, menilai reli perak masih memiliki ruang berlanjut selama faktor pendorong utamanya belum mereda.
“Reli biasanya berakhir ketika faktor pendorong awalnya mereda, dan saat ini hal itu belum terjadi,” ujar Widmer, dikutip dari Reuters.
Meski demikian, Widmer mengingatkan bahwa volatilitas harga perak masih sangat tinggi dan berisiko mengalami koreksi tajam.
Namun, dukungan fundamental yang kuat serta arus dana masuk ke exchange traded fund (ETF) dinilai mampu menopang harga hingga target US$ 170 per ons.
Sejalan dengan itu, Citigroup (Citi) juga menaikkan proyeksi harga perak jangka pendek menjadi US$ 150 per ons, dari sebelumnya US$ 100.
Logam Mulia Lain Bergerak Berlawanan
Di tengah reli emas dan perak, pergerakan logam mulia lain justru melemah. Harga platinum spot turun 5,1% ke US$ 2.616,05 per ons, setelah sebelumnya mencetak rekor di US$ 2.918,80 per ons.
Sementara itu, harga paladium melemah 3,2% ke level US$ 1.919,08 per ons.
Tekanan pada platinum dan paladium menunjukkan terjadinya rotasi minat investor ke aset yang dinilai lebih defensif di tengah ketidakpastian global.
Baca Juga:
Harga Emas Pegadaian Tembus Rp3 Juta! Galeri24 dan UBS Kompak Melejit
Imbas Revolusi AI, Nasib Pekerja Muda Indonesia di Ujung Tanduk
Faktor Geopolitik dan Risiko Fiskal AS Jadi Pemicu
Kekhawatiran pasar meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana penerapan tarif baru atas impor dari Korea Selatan.
Langkah itu memicu kembali ketegangan perdagangan global dan memperkuat sentimen risk-off di pasar keuangan.
Selain itu, risiko penutupan sebagian operasional pemerintah AS (government shutdown) kembali membayangi pasar menjelang tenggat pendanaan pada akhir Januari, menambah tekanan psikologis bagi investor global.
Pasar Menanti Sikap The Fed
Pelaku pasar kini mengalihkan fokus ke pertemuan kebijakan dua hari Federal Reserve (The Fed). Suku bunga diperkirakan akan tetap dipertahankan, namun perhatian utama tertuju pada konferensi pers Ketua The Fed Jerome Powell.
Kekhawatiran terkait independensi bank sentral AS turut menjadi faktor yang memperkuat daya tarik emas dan perak sebagai aset lindung nilai. Setiap sinyal perubahan arah kebijakan moneter berpotensi memicu volatilitas lanjutan di pasar komoditas.
Safe Haven Kembali Jadi Pilihan
Lonjakan harga emas dan perak menegaskan kembalinya logam mulia sebagai safe haven utama di tengah kombinasi risiko geopolitik, ketidakpastian fiskal, dan tensi kebijakan moneter global.
Selama faktor-faktor tersebut belum mereda, pasar menilai tren penguatan logam mulia masih berpotensi berlanjut—meski dengan volatilitas tinggi.
(Dist)







