BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Pemerintah Indonesia semakin serius mendorong transisi menuju energi bersih. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berskala besar di tingkat desa.
Langkah ambisius ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam menekan emisi karbon sekaligus memperluas akses listrik berbasis energi terbarukan di seluruh pelosok negeri.
Target Satu Desa Satu PLTS 1,5 Megawatt
Dalam pernyataannya yang dikutip pada Rabu (5/11/2025), Bahlil menjelaskan bahwa pemerintah tengah menyusun roadmap pembangunan PLTS tersebut. Setiap desa atau kelurahan ditargetkan akan memiliki PLTS berkapasitas 1,5 megawatt (MW).
“Kita akan mendorong pembangkit listrik tenaga matahari. Ini lagi kita suruh nyusun roadmap-nya. Jadi, satu desa itu, atau satu kelurahan itu, ditargetkan 1,5 megawatt,” ujar Bahlil.
Jika terealisasi di seluruh wilayah, proyek ini akan mencakup 60 hingga 70 ribu desa dengan total kapasitas mencapai 80 gigawatt (GW).
Angka ini menjadikan proyek PLTS desa sebagai salah satu inisiatif energi surya terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Diskusi Harga dan Efisiensi Listrik Surya
Meski ambisi besar sudah dicanangkan, pemerintah masih melakukan kajian terkait harga listrik dari PLTS.
Bahlil mengungkapkan bahwa timnya baru saja melakukan kunjungan kerja ke India untuk mempelajari model pembiayaan dan efisiensi energi surya di negara tersebut.
“Kemarin tim saya baru pulang dari India, ada satu katanya sampai 3 sen per KWH. Tapi setelah dicek, ternyata sebagian ada subsidi dari negara. Kalau ini lebih murah, maka ini akan kita lakukan ke depan,” jelasnya.
Menurut Bahlil, pembelajaran dari negara lain akan menjadi acuan penting untuk memastikan proyek PLTS di Indonesia bisa berjalan efisien, berkelanjutan, dan tidak membebani masyarakat.
Baca Juga:
Gandeng IPB, Desa Krandegan Pasang Alat Pemantau Cuaca Otomatis
Tati Supriati Irwan Gelar Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan di Desa Cihanjuang
Butuh Dukungan Investor Asing dan Nasional
Dalam kesempatan yang sama, Bahlil juga menegaskan bahwa pembangunan PLTS dengan kapasitas total 80 GW membutuhkan dukungan dari investor asing.
Pasalnya, kapasitas industri panel surya dalam negeri saat ini baru sekitar 5 GW per tahun, jauh di bawah kebutuhan proyek. Oleh karena itu, kolaborasi dengan pihak internasional menjadi langkah realistis untuk mempercepat realisasi proyek ini.
“Pasti (melibatkan investor asing) karena solar panel 100 Giga Watt itu kan cukup besar,” ujarnya.
Pemerintah, kata Bahlil, akan membuka peluang kerja sama bagi investor global yang siap mendukung proyek ini.
Namun, kerja sama tersebut tetap akan melibatkan pengusaha nasional, BUMN, dan PLN agar manfaat ekonomi bisa dirasakan secara merata di dalam negeri.
Langkah Nyata Menuju Masa Depan Hijau
Program PLTS desa ini menjadi salah satu langkah nyata pemerintah dalam memperluas pemanfaatan energi bersih dan menekan ketergantungan pada energi fosil.
Selain berpotensi besar mengurangi emisi karbon, proyek ini juga diyakini mampu membuka lapangan kerja baru. Memperkuat ekonomi desa, dan menciptakan masa depan yang lebih hijau untuk Indonesia.
Dengan dukungan teknologi, investasi, dan kolaborasi lintas sektor, target “Satu Desa Satu PLTS” bukan sekadar impian melainkan simbol komitmen Indonesia menuju kemandirian energi yang berkelanjutan.
(Hafidah Rismayanti/Aak)










