BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyatakan, akan memperkuat pertahanan nasional dengan percepatan pembangunan kekuatan TNI, khususnya TNI Angkatan Darat (AD). Dalam rapat kerja tertutup bersama Komisi I DPR RI, Senin (25/11/2025), Sjafrie mengungkapkan target pembangunan 150 batalion per tahun, sebuah langkah yang ia sebut sebagai kebutuhan mendesak untuk menjaga kepentingan strategis Indonesia.
Target tersebut berkaitan langsung dengan mandat pengamanan terhadap industri strategis, termasuk kilang minyak milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menurutnya memiliki pengaruh besar terhadap kedaulatan negara.
“Ini akan terus kita tingkatkan setiap tahunnya pada jumlah 150 batalion per tahun,” ujar Sjafrie, dikutip Selasa (25/11/2025).
Menurut Sjafrie, infrastruktur vital seperti kilang dan terminal Pertamina merupakan objek yang harus dilindungi sebagai bagian dari gelar kekuatan pertahanan. Di tengah dinamika geopolitik global dan kerentanan terhadap sabotase maupun ancaman siber, industri semacam itu tidak hanya menopang perekonomian, tetapi juga merupakan fondasi kedaulatan energi nasional.
“Oleh karena itu, industri strategis ini membutuhkan perhatian pertahanan yang serius,” tegasnya.
Ia menambahkan, pembangunan batalion bukan langkah ekspansionis, melainkan investasi keamanan untuk menjaga keutuhan wilayah dan memastikan kepentingan nasional tidak disentuh ancaman eksternal maupun internal.
Pada tahun 2025, menurut Sjafrie, TNI telah mulai memperkuat struktur dengan membentuk 150 Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan. Penguatan ini dilakukan secara terintegrasi dengan dua matra lain: TNI Angkatan Laut (AL) dan Angkatan Udara (AU).
Program pembangunan 150 batalion setiap tahun tersebut sejalan dengan arah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029. Dalam dokumen itu, pemerintah menetapkan pembangunan kekuatan TNI sebagai bagian dari implementasi Optimum Essential Force (OEF), upaya mewujudkan postur pertahanan yang adaptif, modern, dan responsif terhadap ancaman multidimensi.
Baca Juga:
Prabowo Kukuhkan Pimpinan Kopassus, Marinir, Korpasgat Bintang Tiga di Pusdiklatpassus Batujajar
Asisten Deputi Kemenko Polhukam, Brigjen TNI (Mar) Kresno Pratowo, sebelumnya menegaskan bahwa pemerintah memastikan roadmap penguatan TNI berjalan terpadu.
“Kemenko Polkam memastikan arah pembangunan kekuatan TNI tahun 2025–2029 berjalan sesuai kebijakan pertahanan nasional,” katanya dalam Rakor akhir Oktober 2025 lalu.
TNI AD menargetkan pembentukan 750 Batalyon Tempur (BTP) hingga 2029. Fokusnya adalah mempertebal pertahanan darat di kawasan perbatasan strategis seperti Papua, Kalimantan, dan Nusa Tenggara Timur, wilayah yang menjadi beranda terluar NKRI dan rawan infiltrasi maupun ancaman transnasional.
Sementara itu, TNI AL menyiapkan pembentukan 5 Komando Armada (Koarmada) dan 15 Komando Daerah Maritim (Kodaeral), dengan modernisasi kapal berbasis teknologi informasi sebagai prioritas.
TNI AU menargetkan pembangunan 33 Satuan Radar (Satrad) dan penguatan Satuan Antariksa untuk meningkatkan lapisan pertahanan udara nasional, termasuk kemampuan deteksi dini berbasis satelit.
Dengan jaringan industri strategis yang semakin luas dan kompleks, serta lanskap keamanan regional yang cepat berubah, pemerintah menilai percepatan pembangunan kekuatan TNI bukan opsi, melainkan keharusan.
“Pembangunan ini demi menjaga keutuhan, pengamanan, dan menyelamatkan kepentingan nasional,” tukasnya.











