BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Sony Interactive Entertainment melalui layanan PlayStation dikabarkan akan mulai menerapkan sistem verifikasi usia bagi para penggunanya secara global mulai akhir 2026. Kebijakan ini akan berdampak langsung pada fitur komunikasi seperti pesan dan voice chat yang hanya bisa diakses setelah pengguna melakukan verifikasi.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya perusahaan untuk menciptakan lingkungan bermain yang lebih aman, terutama bagi pengguna di bawah umur. Namun, kebijakan ini juga memicu perdebatan, terutama terkait isu privasi data.
Fitur dan Kebijakan Baru
Dalam aturan baru ini, pengguna PlayStation wajib melakukan verifikasi usia jika ingin tetap menggunakan fitur komunikasi seperti chat dan voice call. Jika tidak melakukan verifikasi, pengguna masih bisa bermain game, mengakses PlayStation Store, dan melihat trofi, tetapi tidak bisa menggunakan fitur sosial tersebut.
Sony menyebutkan bahwa proses ini hanya perlu dilakukan satu kali dan biasanya memakan waktu singkat. Sistem ini juga diklaim memberikan kontrol lebih bagi orang tua dalam mengatur pengalaman bermain anak-anak.
Kebijakan ini juga sejalan dengan tren industri game yang mulai menerapkan pembatasan usia, seperti yang sebelumnya dilakukan oleh platform lain.
Cara Verifikasi dan Isu Privasi
Untuk melakukan verifikasi, pengguna nantinya diminta mengunggah identitas resmi seperti kartu identitas atau menggunakan teknologi pemindaian wajah. Proses ini dilakukan bekerja sama dengan pihak ketiga yang menyediakan layanan verifikasi berbasis data biometrik.
Namun, metode ini justru menimbulkan kekhawatiran dari sebagian pengguna. Banyak yang menilai bahwa kebijakan ini berpotensi mengumpulkan data sensitif, seperti wajah dan identitas pribadi, yang bisa saja disalahgunakan atau bocor.
Kekhawatiran ini semakin kuat karena sebelumnya sudah ada kasus denda terhadap perusahaan penyedia verifikasi terkait pengelolaan data biometrik.
Dampak dan Reaksi Pengguna
Penerapan verifikasi usia ini diprediksi akan memengaruhi kebiasaan bermain para gamer, terutama mereka yang aktif menggunakan fitur komunikasi. Tidak sedikit juga pengguna yang merasa kebijakan ini terlalu berlebihan dan mengganggu privasi.
Di sisi lain, ada juga yang melihat langkah ini sebagai bentuk perlindungan, terutama untuk mencegah interaksi yang tidak sesuai bagi pengguna di bawah umur.
(Magang Unpas / Rahmadani)











