BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Presiden Prabowo Subianto meresmikan operasional PT Lotte Chemical Indonesia yang sekaligus menjadi pabrik petrokimia terbesar se Asia Tenggara, berlokasi di Kota Cilegon, Banten.
Proyek yang digarap perusahaan asal Korea Selatan ini merupakan pabrik kelima dalam skala global, dan menjadi fasilitas petrokimia modern terbesar di Indonesia.
Peresmian ditandai dengan penekanan tombol sirine dan penandatanganan prasasti oleh Presiden Prabowo didampingi pihak terkait.
“Saya Prabowo Subianto, Presiden RI, meresmikan PT Lotte Chemical Indonesia, berlokasi di Cilegon, Banten,” ucap Prabowo saat saat acara peresmian, Kamis (5/11/2025) melansir Antara.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menyampaikan bahwa agenda peresmian ini merupakan prestasi yang membanggakan. Pemerintah pun menyatakan komitmennya untuk terus mendukung investasi asing.
Pembangunan PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) yang berdiri di atas lahan seluas 107,8 hektare atau sekitar 1,08 juta meter persegi ini menelan investasi sekitar 3,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp62,4 triliun.
Melalui proyek ini, LCI menargetkan kapasitas produksi untuk sejumlah produk petrokimia strategis. Pabrik ini dirancang memproduksi 1.000 kiloton per tahun (kTA) ethylene, 520 kTA propylene, 350 kTA polypropylene, 140 kTA butadiene, serta 400 kTA BTX (benzene/toluene/xylene).
Pabrik yang telah ada di Korea, Meksiko, Amerika Serikat, dan Malaysia ini membuka jejaring global pemasaran bahan kimia dengan total hasil penjualan 56 miliar dolar AS per tahun 2024.
Baca Juga:
Whoosh Berpotensi Dapat Subsidi PSO, Danantara Siapkan Skema Dukungan
Harga Batubara dan Nikel Kompak Turun Awal November, Perak dan Emas Menguat
Sementara itu dalam laporannya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melaporkan bahwa proyek strategis ini menjadi salah satu investasi petrokimia terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Bahlil mengungkap, dengan hadirnya pabrik petrokimia ini, Indonesia dapat menekan impor bahan baku secara signifikan.
“Dengan pabrik ini, kita tidak lagi mengimpor secara besar-besaran seperti tahun sebelumnya. 70 persen adalah subtitusi impor, 30 persen kita ekspor. Total nilainya, revenue-nya, jualannya per tahun, itu 2 miliar USD. Jadi 1,4-1,5 di sini, sisanya kita ekspor,” kata Bahlil.
Kehadiran pabrik ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan industri hilir, meningkatkan neraca perdagangan, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar.
(Raidi/_Usk)











