BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Prima Pramac Yamaha resmi memperkenalkan livery tim untuk MotoGP musim 2026. Tim satelit asal Italia itu menjadi yang pertama mengungkap tampilan motor sekaligus seragam balap yang akan digunakan pada musim baru, termasuk untuk debut Toprak Razgatlioglu di kelas premier.
Acara peluncuran digelar di Siena, Italia, pada Selasa (13/1/2026) pukul 00.00 WIB. Dua pembalap Pramac Yamaha, Toprak Razgatlioglu dan Jack Miller, hadir langsung dan menjalani debut publik mereka dengan balutan livery musim 2026.
Pramac Yamaha tetap mempertahankan identitas khasnya. Warna ungu dominan dipadukan dengan biru gelap dan hitam, menghadirkan kesan agresif namun elegan. Gradasi warna pada fairing memberi sentuhan modern, sementara kombinasi finishing matte dan glossy membuat motor tampil lebih sangar dan berkarakter, menyerupai motor pabrikan.
Peluncuran ini melanjutkan sorotan besar yang sebelumnya tertuju pada Pramac Yamaha usai keberhasilan mereka merekrut Toprak Razgatlioglu, juara dunia World Superbike (WSBK) tiga kali. Kepindahan pembalap asal Turki itu ke MotoGP telah lama dinantikan, dan akhirnya terwujud pada musim 2026.
Baca Juga:
Yamaha Siapkan Toprak Razgatlıoglu untuk MotoGP 2026
Toprak disebut memilih 2026 sebagai momen ideal untuk naik kelas setelah mempertimbangkan dukungan penuh dari pabrikan Yamaha, kekuatan teknis Pramac, serta faktor usia yang membuat langkah tersebut dinilai tepat waktu.
Musim 2026 sendiri menjadi periode krusial bagi Yamaha. Pabrikan Jepang itu akan mengakhiri era mesin inline-4 yang telah digunakan selama 24 tahun, dan beralih ke mesin V4 yang proyek pengembangannya diumumkan sejak 2024.
Motor V4 tersebut dipandang sebagai kartu penting Yamaha untuk menjaga masa depan mereka di MotoGP, termasuk upaya mempertahankan Fabio Quartararo. Kontrak juara dunia 2021 itu akan memasuki fase penentuan setelah musim 2026.
Namun, tantangan besar masih membayangi. Yamaha secara terbuka mengakui bahwa sebagian besar musim 2026 akan difokuskan pada pengembangan motor baru, bukan semata mengejar hasil instan. Situasi ini membuat perjuangan mempertahankan Quartararo tetap menjadi pekerjaan rumah yang tidak mudah bagi pabrikan asal Iwata tersebut.
(Magang_UIN Sunan Gunung Djati Bandung/Wilidzan Nawa Chandra Nugraha)











