JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Presiden Prancis, Emmanuel Macron menyerukan agar negara-negara di dunia tidak menjadi “bawahan” dua kekuatan besar global, yakni Amerika Serikat dan China.
Pernyataan tersebut disampaikan Macron saat kunjungannya ke Korea Selatan, tepatnya dalam dialog bersama mahasiswa di Yonsei University, Jumat (3/4/2026).
“Saya pikir tujuan kita bukanlah menjadi bawahan dari dua kekuatan hegemonik,” ujar Macron.
Dorong ‘Jalan Ketiga’
Macron mengusulkan pembentukan poros baru atau “jalan ketiga” dalam tatanan global. Ia mengajak negara-negara dengan visi serupa untuk membangun koalisi yang tidak bergantung pada dua kekuatan utama dunia.
Menurutnya, negara-negara seperti Jepang, India, Brasil, Australia, Kanada, serta negara-negara Eropa memiliki potensi untuk membentuk kekuatan alternatif yang lebih seimbang.
“Dengan kesamaan agenda, kita bisa memiliki semacam jalan ketiga,” tegasnya.
Kritik Ketidakpastian Global
Dalam pernyataannya, Macron juga menyinggung peran negara besar dalam menciptakan ketidakstabilan global.
Ia menilai dinamika kebijakan negara-negara besar, termasuk AS, mulai menimbulkan ketidakpastian terhadap tatanan internasional.
Pandangan ini mencerminkan kekhawatiran Prancis terhadap arah geopolitik global yang semakin terpolarisasi.
Imbas Ketegangan dengan AS
Seruan Macron tidak lepas dari ketegangan hubungan antara Prancis dan pemerintahan Donald Trump.
Perbedaan pandangan mencuat terkait konflik di Timur Tengah, khususnya perang yang melibatkan AS, Israel, dan Iran, serta isu kerja sama pertahanan dalam NATO.
Prancis secara terbuka menolak memberikan dukungan militer terhadap langkah AS dalam konflik tersebut.
“Saya tidak percaya situasi akan membaik hanya dengan pengeboman atau operasi militer,” kata Macron.
Sikap Prancis di Forum Internasional
Dalam perkembangan terbaru, Prancis juga dilaporkan mengambil posisi yang berbeda dalam forum global.
Paris disebut bergabung dengan Rusia dan China dalam menentang resolusi Dewan Keamanan PBB yang membuka peluang operasi militer di Selat Hormuz.
Langkah ini mempertegas posisi Prancis yang mengedepankan pendekatan diplomasi dibandingkan eskalasi militer.
Baca Juga:
Petinggi Intelijen AS Mundur, Tolak Perang Iran dan Bongkar Tekanan Israel
Perang Iran vs AS-Israel Hantam Wisata Indonesia, Potensi Rugi Rp184 M per Hari!
Pernyataan Macron dinilai sebagai sinyal kuat bahwa sebagian negara mulai mencari keseimbangan baru dalam geopolitik global.
Alih-alih terjebak dalam rivalitas dua kekuatan besar, Prancis mendorong terbentuknya blok alternatif yang lebih independen, fleksibel, dan berbasis kerja sama multilateral.










