BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Performa Francesco Bagnaia kembali menjadi sorotan usai tampil kurang maksimal pada seri MotoGP Amerika Serikat 2026. Pembalap Ducati tersebut harus puas finis di posisi ke-10, setelah mengalami penurunan performa signifikan di paruh akhir balapan.
Padahal, Bagnaia sempat menunjukkan potensi untuk bersaing di barisan depan. Namun, masalah klasik kembali muncul dan menjadi faktor utama kegagalannya mempertahankan ritme balapan.
Pebalap asal Italia itu mengungkapkan bahwa kendala terbesar terletak pada degradasi ban belakang yang terlalu cepat. Kondisi ini membuatnya kesulitan menjaga kecepatan, terutama di lap-lap krusial menjelang akhir lomba.
“Kami punya masalah nyata dengan keausan ban belakang. Saya sudah mencoba segala cara untuk menjaganya, bahkan tidak membuat slide, tapi tetap saja bannya hancur sendiri,” ujar Bagnaia.
Situasi tersebut memaksanya untuk menurunkan intensitas balapan demi menghindari risiko kecelakaan. Ia bahkan mengakui bahwa kehilangan grip membuatnya sangat rentan disalip oleh pembalap lain.
“Di lap-lap terakhir, risikonya sangat besar. Bahkan di lap terakhir, saya disalip dari luar,” lanjutnya.
Menariknya, masalah ini ternyata bukan hal baru. Legenda MotoGP, Valentino Rossi, sebelumnya sudah pernah mengingatkan soal potensi kelemahan Bagnaia di fase akhir balapan.
Dalam analisanya tahun lalu, Rossi menyebut bahwa Bagnaia mulai kehilangan keunggulan yang dulu menjadi ciri khasnya, yakni kekuatan di lap-lap penentuan.
“Di lap-lap terakhir, Pecco lebih lambat. Padahal sebelumnya dia sangat kuat di fase itu,” ungkap Rossi saat itu.
Baca Juga:
Marco Bezzecchi Jadi Pilar Aprilia hingga Era 850cc MotoGP
Apa yang disampaikan Rossi kini seolah terbukti di lintasan. Balapan di Circuit of the Americas (COTA) menjadi gambaran nyata bagaimana Bagnaia kesulitan mempertahankan performa hingga garis finis.
Ia bahkan tertinggal lebih dari tujuh detik dari sesama pembalap Ducati, Fabio Di Giannantonio, yang tampil lebih stabil sepanjang balapan.
Fenomena ini juga tidak hanya dialami oleh Bagnaia. Sejumlah pembalap Ducati lainnya turut menghadapi persoalan serupa, yang mengindikasikan adanya tantangan teknis terkait manajemen ban di awal musim 2026.
Kondisi tersebut tentu menjadi pekerjaan rumah besar bagi Ducati. Terlebih, persaingan di papan atas semakin ketat dan konsistensi menjadi kunci utama dalam perebutan gelar juara dunia.
Bagi Bagnaia, tekanan kini semakin besar. Jika tidak segera menemukan solusi atas masalah yang sudah lama teridentifikasi ini, peluangnya untuk kembali bersaing dalam perebutan gelar bisa semakin menipis.











