BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Film horor Indonesia terbaru, Jangan Panggil Mama Kafir, berhasil menarik perhatian penonton berkat kualitas produksi yang matang dan akting para pemain yang memukau. Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
Maxima Pictures kembali menghadirkan karya horor yang tak sekadar menakutkan, tetapi juga sarat konflik emosional dan sosial. Sutradara Dyan Sunu Prastowo menonjolkan kisah cinta lintas iman sekaligus perjuangan seorang ibu, yang membedakan film ini dari horor lokal lainnya.
Plot
Jangan Panggil Mama Kafir mengangkat kisah Maria (Michelle Ziudith), seorang perempuan Nasrani, dan Fafat (Giorgino Abraham), pria Muslim, yang menjalani pernikahan penuh tantangan karena perbedaan agama. Dari pernikahan itu lahirlah Laila (Humaira), simbol kasih dan harapan.
Sebelum meninggal, Fafat berpesan agar Laila tetap mengenal dan mempelajari ajaran Islam. Maria pun membesarkan Laila seorang diri, menghadapi tekanan sosial, konflik batin, dan perselisihan dengan ibu mertua, Umi Habibah (Elma Theana), yang menuntut hak asuh anak ke pengadilan.
Sekilas, film ini terlihat seperti kisah romansa lintas iman, tetapi sesungguhnya menekankan ujian batin, tanggung jawab, dan pengorbanan. Dyan Sunu Prastowo menyoroti perjuangan seorang ibu dalam menghadapi stigma sosial, bukan sekadar kisah cinta spiritual. Konflik kompleks dan karakter realistis membuat film ini lebih dari sekadar percintaan biasa, melainkan refleksi tentang cinta, iman, dan keteguhan hati seorang ibu.
Performa Pemeran yang Memukau
Semua pemeran memiliki peran penting dalam membangun emosi cerita. Giorgino Abraham menampilkan Fafat dengan ketulusan dan cinta sejati, Michelle Ziudith berperan sebagai Maria, ibu yang tegar menghadapi dilema cinta, iman, dan kehilangan. Elma Theana pun tampil meyakinkan sebagai Umi Habibah, sosok ibu mertua yang keras namun tetap penuh kasih.
Tak kalah memukau, Humaira Jahra sebagai Laila tampil natural dan menyentuh, sementara karakter pendukung seperti Bu Guru (Prastiwi Dwiarti) dan adik Fafat (Kaneishia Jusuf) menambah kedalaman cerita. TJ Ruth, Indra Birowo, dan Gilbert Pattiruhu pun menambahkan lapisan emosi yang membuat film ini semakin kuat.
BACA JUGA:
Film Sehidup Semati: Romansa Gelap Berujung Maut
Festival Film Horor (FFH) 2025 Siap Bikin Pacitan ‘Menyeramkan’ Desember Mendatang
Terasa Dekat dengan Kehidupan Nyata
Film ini diangkat dari kisah nyata, menurut Pak Yoen K dari Maxima Pictures. Hal ini membuat penonton lebih mudah terhubung dengan cerita, mulai dari pernikahan beda agama hingga perjuangan mempertahankan hak asuh anak.
“Ini terinspirasi dari kisah nyata. Kebetulan saya tertarik dengan kisahnya. Kita dibantu oleh banyak pihak dan ini merupakan film ke-60 Maxima Pictures untuk bertahan di industri selama 21 tahun,” ujar Pak Yoen K.
Karakter Umi Habibah pun mewakili orang tua yang menghadapi konflik batin, menambah kedalaman emosional film. Semua elemen ini menjadikan Jangan Panggil Mama Kafir bukan sekadar tontonan, tetapi cerminan kehidupan nyata yang penuh kasih, luka, dan perjuangan.
Jangan Panggil Mama Kafir menyajikan kisah emosional dengan eksekusi matang, akting memukau, dan alur relevan. Film ini mengajarkan tentang cinta, toleransi, dan keteguhan hati menghadapi perbedaan, membuatnya sangat layak ditonton.
Jangan Panggil Mama Kafir
- Genre: Horor, Drama
- Produser: Maxima Pictures
- Sutradara: Dyan Sunu Prastowo
- Penulis: Dyan Sunu Prastowo
- Casts: Michelle Ziudith, Giorgino Abraham, Humaira Jahra, Elma Theana, Prastiwi Dwiarti, Kaneishia Jusuf, TJ Ruth, Indra Birowo, Gilbert Pattiruhu
- Tayang: 16 Oktober 2025
(Haqi/Aak)











