JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PAN, Primus Yustisio, melontarkan kritik keras terhadap kinerja Bank Indonesia terkait terus melemahnya nilai tukar rupiah.
Primus menilai bank sentral kehilangan kepercayaan publik dan gagal menjaga kredibilitas moneter di tengah tekanan ekonomi global.
Menurut Primus, kondisi rupiah saat ini menunjukkan situasi yang sangat mengkhawatirkan. Ia menyoroti bagaimana nilai tukar euro yang pada 2006 masih berada di kisaran Rp7.000 kini hampir menyentuh Rp20.000.
“Sebagai pimpinan Bank Indonesia, harus gentleman. Harus berani melawan. Mungkin saatnya sekarang Bapak mengundurkan diri,” kata Primus dalam rapat kerja bersama Gubernur BI Perry Warjiyo di Gedung DPR, Senin (18/5/2026),
Soroti Pelemahan Rupiah terhadap Banyak Mata Uang
Primus menegaskan pelemahan rupiah tidak hanya terjadi terhadap dolar Amerika Serikat. Ia menyebut mata uang Garuda kini juga tertekan terhadap berbagai mata uang asing lainnya.
Beberapa mata uang yang disebut mengalami penguatan terhadap rupiah antara lain dolar Singapura, dolar Australia, ringgit Malaysia, riyal Arab Saudi, hingga dolar Hong Kong.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sinyal serius terkait stabilitas ekonomi nasional dan efektivitas kebijakan moneter yang dijalankan BI.
“Rupiah saat ini sudah mencapai level yang sangat berisiko bagi stabilitas bank sentral,” ujarnya.
Bandingkan Indonesia dengan Negara Lain
Politisi PAN tersebut juga membandingkan kondisi pasar keuangan Indonesia dengan negara-negara lain pasca gejolak global sejak Februari 2026.
Ia menyebut mayoritas pasar saham dunia telah mengalami rebound dan kembali ke zona hijau. Namun Indonesia justru masih mengalami tekanan cukup dalam.
“Dunia sudah rebound, bahkan sudah plus. Namun Indonesia saat ini masih minus lebih dari 20 persen,” tegasnya.
Primus menilai kondisi itu memunculkan pertanyaan global terhadap kualitas dan kredibilitas Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Singgung Budaya Kepemimpinan Jepang dan Korea
Dalam interupsinya, Primus juga menyinggung budaya kepemimpinan di Jepang dan Korea Selatan yang menurutnya menjunjung tinggi tanggung jawab moral pejabat publik.
Ia mengatakan pengunduran diri seorang pimpinan bukan bentuk penghinaan, melainkan sikap ksatria ketika merasa tidak mampu menjalankan tugas dengan baik.
“Di Korea atau Jepang, jika tidak bisa menjalankan tugas dengan baik, mengundurkan diri justru lebih dihormati,” katanya.
Baca Juga:
2 Jurnalis Republika Diduga Diculik Israel, Kapal Global Sumud Flotilla Kirim Sinyal SOS
Polemik Film Pesta Babi, Menteri Pigai Tegaskan Pelarangan Hanya Bisa Lewat Keputusan Pengadilan
Kritik Primus menambah daftar sorotan terhadap kebijakan Bank Indonesia di tengah tekanan ekonomi global, volatilitas pasar keuangan, serta pelemahan rupiah yang terus berlanjut.
Hingga kini, pihak Bank Indonesia belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan tersebut. Namun, isu stabilitas rupiah diperkirakan akan tetap menjadi perhatian utama pemerintah, DPR, maupun pelaku pasar dalam beberapa waktu ke depan.











