JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Penyelidikan kasus pembunuhan putra politisi PKS Cilegon, Maman Suherman, kini memasuki tahap baru. Untuk mengurai kebuntuan yang berlangsung selama sepekan, kepolisian memperluas pemeriksaan saksi guna mendalami motif di balik kematian korban yang ditemukan tewas dengan sejumlah luka tusuk.
Hingga Kamis (25/12/2025), penyidik Satuan Reserse Kriminal Polres Cilegon telah memeriksa sebanyak 18 saksi.
Pemeriksaan tersebut menyasar lingkaran terdekat korban yang berada di lingkungan Perumahan Bukit Baja Sejahtera (BBS) III, Kota Cilegon.
Sejumlah saksi yang dimintai keterangan meliputi anggota keluarga, asisten rumah tangga, hingga rekan profesional dari ayah korban.
Langkah tersebut dilakukan untuk memperoleh gambaran utuh terkait aktivitas korban sebelum peristiwa pembunuhan terjadi.
Meski demikian, hingga saat ini polisi belum menetapkan tersangka. Minimnya petunjuk awal di lokasi kejadian menjadi tantangan tersendiri bagi penyidik dalam mengidentifikasi pelaku.
Kepala Satreskrim Polres Cilegon, AKP Yogatama, mengungkapkan bahwa salah satu kendala utama dalam proses penyelidikan adalah sistem keamanan rumah korban yang tidak berfungsi.
“CCTV di rumah korban sudah tidak aktif sejak tahun 2023. Kondisi ini membuat kami harus bekerja lebih keras untuk menelusuri pergerakan orang-orang di sekitar lokasi,” ujar Yogatama, Kamis (25/12/2025).
Sebagai langkah alternatif, penyidik kini memfokuskan pencarian pada rekaman kamera pengawas milik warga dan fasilitas umum di sekitar perumahan. Jalur akses keluar-masuk lingkungan perumahan turut dipetakan untuk mengidentifikasi kemungkinan pergerakan mencurigakan.
Baca Juga:
Kebakaran Hanguskan Deretan Kios di Pondok Aren, Kerugian Capai Rp300 Juta
Doktif Resmi Jadi Tersangka Kasus Pencemaran Nama Baik Dokter Richard Lee
Selain kendala teknis, faktor cuaca juga turut memengaruhi proses penyelidikan. Hujan lebat yang turun pada malam kejadian diduga menghilangkan jejak fisik pelaku di sekitar tempat kejadian perkara.
Akibatnya, upaya pelacakan menggunakan anjing pelacak tidak membuahkan hasil maksimal. Meski begitu, polisi memastikan penyelidikan tetap berjalan dengan melibatkan Pusat Laboratorium Forensik Mabes Polri guna melakukan olah TKP secara mendalam.
Hingga kini, garis polisi masih terpasang di kediaman korban. Aparat kepolisian menegaskan akan terus mendalami berbagai kemungkinan motif, baik yang bersifat pribadi maupun yang berkaitan dengan aktivitas politik dan profesional orang tua korban.
Sementara itu, pihak keluarga korban memilih untuk belum memberikan pernyataan kepada publik dan menyerahkan sepenuhnya proses pengungkapan kasus kepada aparat penegak hukum.
(Dist)











