BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Perawatan motor merupakan hal penting untuk menjaga tampilan dan performa kendaraan tetap optimal. Namun, tidak semua kebiasaan perawatan yang umum dilakukan benar-benar berdampak positif. Bahkan, beberapa di antaranya justru berisiko menimbulkan kerusakan pada mesin jika dilakukan secara keliru.
Berikut sejumlah jenis perawatan motor yang sering dilakukan, tetapi manfaatnya minim dan berpotensi merugikan kendaraan.
Menggeber Motor Setelah Dicuci
Mencuci motor memang perlu dilakukan ketika kendaraan sudah terlihat kotor, karena kotoran yang menumpuk dapat merusak beberapa komponen. Namun, kebiasaan menggeber mesin setelah motor dicuci dengan tujuan agar cepat kering sebaiknya dihindari.
Menggeber mesin saat kondisi masih dingin dapat membuat mesin mengalami tekanan berlebih. Suhu mesin yang belum stabil dipaksa bekerja keras, sehingga dalam jangka panjang dapat memicu keausan komponen internal.
Menggunakan Busi Racing untuk Motor Harian
Sebagian pengguna motor menganggap penurunan performa bisa diatasi dengan mengganti busi standar ke busi racing. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar, terutama untuk motor harian dengan spesifikasi standar.
Busi racing dirancang untuk kebutuhan balap dengan rasio kompresi mesin yang lebih tinggi. Jika digunakan pada motor standar, pembakaran justru menjadi tidak optimal dan dapat menyebabkan akselerasi terasa tidak stabil.
Servis Throttle Body dengan Cara Keliru
Servis throttle body umumnya dilakukan ketika motor telah menempuh jarak sekitar 10 ribu kilometer atau lebih. Tujuannya agar performa mesin tetap terjaga.
Namun, praktik menyemprotkan cairan injector cleaner langsung ke throttle body saat mesin menyala dinilai berisiko. Kotoran dari throttle body bisa masuk ke ruang bakar. Meski sebagian kotoran terbakar, sisanya dapat menjadi residu yang menumpuk di ruang bakar.
Jika dilakukan berulang, penumpukan residu ini berpotensi menyebabkan gangguan serius seperti tabrakan seher yang berujung pada risiko turun mesin.
Penggunaan Oli Diesel
Penggunaan oli diesel pada motor, khususnya motor matic, juga kerap dilakukan dengan alasan membersihkan mesin. Oli diesel memang memiliki kandungan deterjen yang tinggi sehingga mampu melarutkan kotoran.
Namun, karakteristik oli diesel yang lebih kental tidak sesuai dengan celah mesin motor yang relatif kecil. Akibatnya, saat mesin dingin, tarikan motor terasa berat karena pelumasan terlambat menjangkau bagian atas mesin dan piston. Gesekan pun meningkat sebelum oli menyebar sempurna.
Hal ini membuat penggunaan oli diesel cukup berisiko jika hanya bertujuan untuk membersihkan mesin.
Baca Juga:
Oli Motor Jadi Boros? Cek 4 Penyebabnya
Menyemprotkan Angin Kompresor ke Lubang Oli
Di beberapa bengkel umum, lubang oli kerap disemprot angin kompresor setelah pengurasan oli dengan tujuan mengeluarkan sisa oli yang mengendap. Cara ini sebenarnya tidak dianjurkan.
Angin kompresor mengandung uap air yang dapat bercampur dengan oli dan menurunkan daya pelumasannya. Selain itu, tekanan angin berpotensi mendorong kotoran atau partikel kecil dari filter oli kembali masuk ke dalam mesin, yang dapat mempercepat keausan komponen.
Sebagai solusi, penggantian oli sebaiknya dilakukan di pagi hari setelah motor didiamkan semalaman. Dalam kondisi ini, oli akan terkumpul di bagian bawah mesin dan keluar lebih maksimal tanpa perlu bantuan angin kompresor.
(Magang_UIN Sunan Gunung Djati Bandung/ Wilidzan Nawa Chandra Nugraha)











