JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Perseteruan antara Elon Musk dan OpenAI kini memasuki fase paling krusial. Sidang gugatan yang berlangsung di pengadilan federal Oakland, California, telah memasuki pekan kedua dan menjadi sorotan global.
Kasus ini bukan sekadar konflik bisnis biasa. Dampaknya berpotensi menentukan arah perkembangan kecerdasan buatan (AI) dunia, termasuk nasib rencana penawaran saham perdana (IPO) OpenAI yang nilainya disebut mencapai USD 850 miliar atau sekitar Rp 13.000 triliun.
Gugatan Fantastis dan Tuduhan Pengkhianatan
Musk melayangkan gugatan terhadap CEO Sam Altman dan Presiden Greg Brockman dengan nilai tuntutan mencapai USD 150 miliar.
Ia menuding OpenAI telah menyimpang dari tujuan awal sebagai organisasi nirlaba yang berfokus pada keselamatan umat manusia. Menurut Musk, transformasi menjadi entitas berorientasi laba adalah bentuk pengkhianatan terhadap visi awal pendirian perusahaan.
“Saya diyakinkan oleh Sam Altman dan yang lainnya bahwa OpenAI akan tetap menjadi non-profit,” melansir Reuters, Selasa (5/5/2026)
Ia juga menuntut agar Altman dan Brockman dicopot dari jabatannya serta meminta OpenAI dikembalikan ke status nirlaba.
Pengakuan Mengejutkan di Ruang Sidang
Salah satu momen paling mencuri perhatian adalah ketika Musk mengaku di bawah sumpah bahwa perusahaan AI miliknya, xAI, menggunakan model OpenAI untuk membantu melatih sistem mereka, termasuk chatbot Grok.
Pernyataan ini memicu reaksi di ruang sidang.
Musk berdalih,
“Ini adalah praktik standar untuk menggunakan AI lain guna memvalidasi AI milikmu.”
Di sisi lain, tim hukum OpenAI melalui pengacara William Savitt juga menekan Musk soal dokumen penting tahun 2018 terkait transisi OpenAI menjadi entitas for-profit.
Jawaban Musk justru menambah kontroversi:
“Saya tidak membaca cetakan kecilnya, hanya judul utamanya saja.”
Hakim Sindir Musk, Risiko AI Jadi Sorotan
Persidangan juga diwarnai perdebatan soal risiko eksistensial AI terhadap manusia.
Pihak Musk sempat menghadirkan argumen bahwa AI bisa memicu kepunahan manusia. Namun, Hakim Distrik AS Yvonne Gonzalez Rogers menolak kesaksian tersebut.
Ia bahkan menyindir posisi Musk:
“Saya pikir ini ironis bahwa klien Anda justru mendirikan perusahaan di bidang yang sama.”
Sindiran itu merujuk pada keberadaan xAI yang juga bergerak di sektor kecerdasan buatan.
Retaknya Hubungan Pendiri dan Bayang-bayang Google
Dokumen internal yang dibuka di persidangan mengungkap konflik lama di tubuh OpenAI.
Pada periode 2017–2018, Musk disebut sangat khawatir terhadap dominasi Google DeepMind. Dalam salah satu email, ia menilai OpenAI memiliki “probabilitas 0%” untuk bersaing tanpa dukungan dana besar.
Musk bahkan sempat mengusulkan agar OpenAI digabung dengan Tesla untuk memperkuat pendanaan. Namun usulan itu ditolak oleh Brockman dan ilmuwan AI Ilya Sutskever karena khawatir akan menciptakan dominasi tunggal.
Dalam salah satu email yang kini menjadi bukti persidangan, mereka menulis:
“Akan menjadi ide buruk jika kita menciptakan struktur di mana kamu bisa menjadi diktator.”
Zuckerberg Ikut Terseret
Persidangan ini juga menyeret nama CEO Meta, Mark Zuckerberg.
Dokumen pengadilan mengungkap komunikasi antara Musk dan Zuckerberg pada akhir 2024. Bahkan, Zuckerberg disebut mendukung gugatan terhadap OpenAI melalui jalur hukum di California.
Puncaknya terjadi pada Februari 2025, ketika Musk mengirim pesan yang cukup mengejutkan:
“Apakah Anda terbuka dengan ide untuk menawar kekayaan intelektual OpenAI bersama saya?”
Percakapan ini membuka kemungkinan adanya upaya kolaborasi diam-diam antara dua rival besar di industri teknologi.
IPO dan Masa Depan OpenAI
Di tengah panasnya persidangan, OpenAI tengah menyiapkan langkah besar berupa IPO raksasa yang berpotensi menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah teknologi.
Namun, jika pengadilan memenangkan Musk, konsekuensinya bisa sangat besar:
- OpenAI dipaksa kembali menjadi organisasi nirlaba
- Kepemimpinan Altman dan Brockman dicopot
- Rencana IPO bernilai USD 850 miliar terancam batal
- Posisi OpenAI di pasar AI global bisa melemah
Sidang Masih Berlanjut
Persidangan diperkirakan akan berlangsung panjang. Dalam agenda berikutnya, Greg Brockman dijadwalkan memberikan kesaksian, disusul Sam Altman pada pekan depan.
Nama lain yang turut disorot adalah CEO Satya Nadella, mengingat Microsoft juga terseret dalam gugatan karena perannya dalam mendukung transformasi komersial OpenAI
Baca Juga:
Sahabat AI Resmi Meluncur, Diklaim Paling Indonesia Dibanding ChatGPT!
ChatGPT Dikabarkan Bakal Tampilkan Iklan, Masuk Fase Monetisasi
Kasus ini mencerminkan pertarungan besar antara idealisme dan kepentingan bisnis dalam pengembangan AI.
Di satu sisi, Musk menyoroti pentingnya menjaga AI tetap aman bagi umat manusia. Di sisi lain, OpenAI dan mitranya mendorong komersialisasi sebagai cara mempercepat inovasi.
Apapun hasilnya nanti, sidang ini hampir pasti akan menjadi titik balik dalam sejarah industri kecerdasan buatan global.










