JAKARTA, TERPOPONGMEDIA.ID — Film horor terbaru Aku Harus Mati mendadak menjadi perbincangan publik. Bukan hanya karena ceritanya yang gelap, tetapi juga strategi promosinya yang dianggap terlalu ekstrem.
Baliho besar dengan visual mata merah menyala dan judul provokatif terpampang di sejumlah titik strategis Jakarta.
Alih-alih menarik rasa penasaran, visual tersebut justru memicu kekhawatiran terutama terkait dampaknya pada kesehatan mental masyarakat.
Kemenkes Soroti Risiko Psikologis
Polemik ini mendapat perhatian serius dari pemerintah.
Imran Pambudi dari Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa isu ini bukan sekadar persoalan estetika atau kebebasan berekspresi.
“Pilihan kata yang menggambarkan bunuh diri sebagai ‘pilihan’ atau ‘pembebasan’ bisa ditangkap sebagai legitimasi oleh orang yang sedang putus asa,” ujarnya, Senin (6/4/2026).
Data menunjukkan adanya peningkatan kasus bunuh diri di Indonesia, dari 1.350 kasus pada 2023 menjadi 1.450 kasus pada 2024.
Di sisi lain, layanan krisis kesehatan mental seperti Healing 119 juga mengalami lonjakan panggilan, menandakan meningkatnya kebutuhan dukungan psikologis di masyarakat.
Pemerintah Turun Tangan, Baliho Dicopot
Respons cepat juga datang dari Pramono Anung.
Ia memastikan bahwa pemerintah daerah langsung melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Satpol PP dan KPI.
Hasilnya, sejumlah baliho di titik strategis seperti Jalan Puri Kembangan, Daan Mogot, hingga kawasan Harmoni resmi diturunkan.
“Strategi pemasaran yang mengabaikan dampak sosial tidak akan diberi ruang,” tegasnya.
Langkah serupa juga dilakukan di daerah lain seperti Malang, di mana baliho dianggap melanggar aturan reklame dan berpotensi meresahkan publik.
Sinopsis: Horor dengan Sentuhan Realita Sosial
Di balik kontroversinya, Aku Harus Mati menawarkan cerita yang tidak sekadar menakutkan.
Film ini mengikuti kisah Mala, seorang perempuan yatim piatu yang terjebak dalam tekanan hidup modern—mulai dari gaya hidup konsumtif hingga jeratan utang pinjaman online.
Dalam upaya mencari jalan keluar, ia kembali ke panti asuhan tempat masa lalunya tersimpan. Namun, alih-alih menemukan ketenangan, Mala justru dihadapkan pada rahasia kelam tentang dirinya.
Cerita semakin intens ketika muncul unsur supranatural yang mengikatnya dalam perjanjian gelap, menuntut pengorbanan demi ambisi dan kesuksesan.
Horor yang Lebih dari Sekadar Jump Scare
Disutradarai oleh Aroe Ama, film ini mencoba menghadirkan pendekatan berbeda.
Ketegangan tidak hanya dibangun lewat visual menyeramkan, tetapi juga melalui konflik batin tokoh utama.
Interaksi Mala dengan karakter lain, termasuk sosok misterius Ki Jago, menghadirkan lapisan emosional yang memperkuat nuansa psikologis.
Daftar Pemain Utama
Film ini dibintangi oleh sejumlah aktor muda dan senior:
- Hana Saraswati sebagai Mala
- Amara Sophie sebagai Tiwi
- Prasetya Agni sebagai Nugra
- Bambang Paningron sebagai Ki Jago
Baca Juga:
Trailer Harry Potter Terbaru Banjir Hujatan Fans, Ada Apa?
Daftar Lengkap Pemenang Oscar 2026: One Battle After Another Borong Penghargaan
Terlepas dari polemik yang terjadi, film ini justru semakin ramai diperbincangkan.
Kontroversi promosi menjadi pedang bermata dua di satu sisi memicu kritik, namun di sisi lain meningkatkan rasa penasaran publik.
Kini, perhatian tertuju pada satu hal apakah film ini mampu menjawab ekspektasi, atau justru tenggelam dalam kontroversi yang mengiringinya.
(Dist)










