BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Xiaomi kembali menambah daftar produk wearable lewat lini smart glasses berbasis audio, sebuah kacamata pintar yang lebih menitikberatkan fungsi suara ketimbang fitur augmented reality (AR). Produk ini diulas oleh kanal YouTube Concept Creator, yang menempatkannya sebagai perangkat pendukung aktivitas harian, bukan sebagai “kacamata masa depan” berbasis visual digital.
Dalam video ulasan terbarunya, Concept Creator menilai bahwa penyebutan “smart” pada kacamata ini lebih tepat dipahami sebagai integrasi audio, bukan teknologi visual.
“Kalau jujur, bagian ‘smart’ dari kacamata ini sebenarnya ada di audionya,” ujar Concept Creator dalam video tersebut.
Fokus Audio, Bukan Visual
Berbeda dari smart glasses berteknologi AR atau mixed reality, produk Xiaomi ini mengandalkan speaker terbuka di sisi frame untuk memutar audio dan menerima panggilan. Reviewer menyebut kualitas suara terasa paling optimal saat digunakan langsung, bukan ketika diletakkan seperti speaker konvensional.
Meski demikian, Concept Creator menegaskan bahwa produk ini tidak dimaksudkan menyaingi TWS atau earbud.
“Ini bukan untuk menggantikan in-ear earbuds, tapi cukup nyaman untuk dipakai sehari-hari,” katanya.
Ia justru menyoroti fungsi panggilan sebagai nilai paling relevan. Mikrofon disebut cukup jernih untuk komunikasi, terutama saat berkendara atau beraktivitas ringan tanpa harus memegang ponsel.
Baca Juga:
Xiaomi 17 Ultra Resmi Rilis, Usung Kamera Periskop 200MP dan Baterai 6.800mAh
Baterai dan Pengisian: Cukup, Tapi Tidak Bebas Catatan
Dalam ulasannya, Concept Creator menyebut daya tahan baterai berada di kisaran hingga 13 jam untuk pemutaran audio dan sekitar 9 jam untuk panggilan, dengan catatan angka tersebut bergantung pada pola penggunaan. Pengisian cepat diklaim mampu memberikan sekitar empat jam pemakaian hanya dengan 10 menit pengisian.
Namun, ia juga mencatat satu kelemahan penting: penggunaan kabel proprietary.
“Kalau kabelnya hilang, mau tidak mau harus cari pengganti khusus,” ujarnya, seraya menyebut pendekatan ini wajar demi desain lebih ringkas.
Fungsi Kacamata: Bekerja, Tapi Bukan yang Terbaik
Sebagai kacamata hitam, produk ini dinilai berfungsi cukup, namun belum bisa disebut unggul. Dalam kondisi cahaya sangat terang, Concept Creator mengaku visibilitas masih terasa kurang optimal.
Ia juga mencatat adanya efek pelangi atau distorsi warna saat melihat melalui sudut tertentu, terutama ketika menghadap jendela atau permukaan reflektif.
“Kalau lihat lurus tidak masalah, tapi dari samping kadang muncul efek warna,” tuturnya.
Digunakan untuk Apa?
Alih-alih diposisikan sebagai perangkat hiburan utama, Concept Creator menilai smart glasses ini lebih relevan sebagai alat bantu komunikasi ringan, khususnya untuk menerima telepon tanpa harus menyentuh ponsel.
“Buat saya pribadi, ini paling berguna untuk ngobrol saat menyetir. Tetap fokus ke jalan tanpa ribet,” katanya.
Dengan kata lain, fungsi utama produk ini lebih dekat ke hands-free wearable audio daripada kacamata pintar futuristik.
Bukan Soal “Pintar”, Tapi Praktis
Dari keseluruhan ulasan, smart glasses Xiaomi ini tidak mencoba mengubah cara orang melihat dunia lewat teknologi visual. Justru, ia hadir sebagai alternatif perangkat audio berbentuk kacamata—praktis, ringan, dan menyatu dengan gaya sehari-hari, meski dengan beberapa kompromi teknis.
selama produk ini dipahami sebagai kacamata audio, bukan smart glasses visual, maka ekspektasi pengguna akan jauh lebih realistis.
(Magang UIN Sunan Gunung Djati/Fathir Fahrezi Fardiansyah)











