BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Iran memberi sinyal membuka jalur diplomasi dengan menunjuk Pakistan dan Turki sebagai mediator dalam komunikasi dengan Amerika Serikat. Pakistan dilaporkan telah menyampaikan proposal dari Washington kepada Teheran, sementara Turki turut berperan sebagai penghubung pesan di antara kedua pihak.
Langkah ini mengindikasikan bahwa Iran mulai mempertimbangkan jalur diplomasi, meskipun tetap menolak melakukan negosiasi langsung dengan pemerintahan Presiden Donald Trump.
Menanggapi perkembangan tersebut, Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI, Sukamta, menilai Indonesia perlu bersikap cermat dan terukur dalam merespons dinamika geopolitik tersebut, sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif.
“Yang paling utama bukan sekadar siapa yang menjadi mediator, tetapi bagaimana menghentikan potensi eskalasi konflik, melindungi warga sipil, serta membuka jalan menuju perdamaian yang berkelanjutan,” ujar Sukamta, melalui keterangan tertulisnya, Sabtu (28/3/2026).
Baca Juga:
Pemerintah Indonesia Dorong Deeskalasi Konflik Iran-Israel
Ia menegaskan bahwa fokus utama harus diarahkan pada upaya meredam konflik dan menciptakan stabilitas kawasan, bukan pada siapa pihak yang menjadi penengah.
Sebagai bagian dari komunitas global, Indonesia diharapkan terus memainkan peran aktif dalam mendorong perdamaian dunia melalui pendekatan diplomasi yang konstruktif dan solutif.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto juga telah menyatakan kesiapan Indonesia untuk menjadi mediator dalam konflik yang melibatkan AS-Israel dan Iran. Bahkan, Prabowo menyatakan kesediaannya untuk melakukan kunjungan langsung ke Teheran apabila mendapat persetujuan dari pihak-pihak terkait.
Langkah tersebut bertujuan untuk membantu memulihkan situasi keamanan agar kembali kondusif. Namun hingga kini, belum ada keputusan resmi dari pihak yang berkonflik, yakni kubu Amerika Serikat–Israel dan Iran, terkait tawaran mediasi dari Indonesia.










