BANDUNG,TEROPONGMEDIA.ID — Harapan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung untuk menambah ritase pembuangan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat kandas. Permohonan tambahan yang diajukan ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat ditolak karena kapasitas TPA sudah penuh.
“Sudah kami ajukan, tapi ditolak. Karena memang sudah penuh sekali,” kata Farhan, Rabu (15/10/2025).
Dengan kondisi itu, Farhan menegaskan langkah satu-satunya yang bisa ditempuh saat ini adalah memperkuat pengolahan sampah di dalam kota.
“Tidak ada cara lain selain pengolahan. Fokus kami sekarang adalah bagaimana mengolah sampah agar tidak menumpuk,” tegasnya.
Kota Bandung masih berhadapan dengan tantangan besar dalam pengelolaan sampah sejak diberlakukannya pembatasan pembuangan ke TPA Sarimukti. Kebijakan ini tertuang dalam Surat Edaran Sekda Provinsi Jawa Barat Nomor 6174/PBLS.04/DLH tertanggal 1 Agustus 2025, yang mulai berlaku 1 September lalu.
Sebelumnya, Wakil Wali Kota Bandung, Erwin, menjelaskan, sistem pembuangan kini diubah dari ritase menjadi tonase.
“Sebelumnya Bandung bisa membuang sekitar 1.200 ton per hari, sekarang hanya boleh 981 ton. Ada pengurangan sekitar 220 ton per hari. Ini kendala besar pertama bagi kami,” ujar Erwin.
Situasi makin sulit karena TPA Sarimukti kini tidak beroperasi setiap hari Minggu. Akibatnya, sekitar 520 ton sampah tidak terangkut dalam satu hari. Dalam hitungan sebulan, potensi penumpukan bisa mencapai lebih dari 10 ribu ton.
Baca Juga:
Uji Coba Biodigester di Pasar Gedebage, Solusi Sampah Kota Bandung Mulai Diuji Lapangan
Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, kapasitas pengolahan sampah dalam kota baru mampu menangani sekitar 160 ton per hari. Artinya, masih ada sekitar 360 ton sampah yang menumpuk setiap hari atau lebih dari 10.700 ton per bulan.
“Ini jelas jadi tantangan serius. Karena itu, kami terus memperkuat fasilitas pengolahan dan insinerator di berbagai titik,” katanya
Erwin menekankan, penyelesaian masalah sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Diperlukan peran aktif masyarakat melalui program Kawasan Bebas Sampah (KBS) di tingkat RW.
“Kalau setiap lingkungan bisa mengurangi sampah dari sumbernya, beban kota akan jauh lebih ringan,” ujarnya.
Selain itu, Pemkot juga membuka peluang kolaborasi dengan pihak swasta, terutama untuk investasi teknologi pengolahan dan pemanfaatan energi dari sampah.
“Tanpa dukungan banyak pihak, mustahil masalah ini bisa diatasi,” tambahnya.
Meski pembatasan sudah berlaku lebih dari sebulan, Erwin memastikan situasi Kota Bandung masih terkendali. Beberapa titik memang sempat mengalami penumpukan, tetapi belum menimbulkan dampak besar.
“Alhamdulillah sampai sekarang Bandung masih bisa terjaga. Petugas di lapangan bekerja luar biasa, dibantu oleh berbagai komunitas dan relawan,” pungkasnya.
(Kyy/_Usk)











