BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Juara kelas menengah UFC, Khamzat Chimaev, tak menutup mata bahwa pertarungan di oktagon bukan semata soal sabuk juara, melainkan juga bisnis bernilai jutaan dolar. Di balik dominasinya yang tak terbantahkan, petarung berjuluk Borz itu secara terbuka mengakui bahwa bayaran menjadi faktor utama dalam menentukan langkah karier berikutnya.
Dalam wawancara eksklusif bersama ESPN, Chimaev menyampaikan rencana jangka pendeknya secara gamblang: satu kali mempertahankan gelar kelas menengah, lalu naik ke divisi light heavyweight demi mengejar sabuk kedua—dan tentu saja, bayaran yang lebih besar.
Khamzat Chimaev merebut gelar kelas menengah UFC pada ajang UFC 319 Agustus lalu setelah mendominasi Dricus Du Plessis selama lima ronde. Kemenangan mutlak itu mengukuhkan rekornya tetap sempurna, 15-0, sekaligus menempatkannya sebagai salah satu aset paling berharga UFC saat ini.
Baca Juga:
Khamzat Chimaev Bakal Jadi Cornerman Arman Tsarukyan di UFC Qatar
Namun, ia tidak ingin membangun dinasti panjang di kelas menengah, Chimaev justru bersikap realistis. Ia menilai divisi tersebut tidak lagi memberinya gairah besar, terutama jika dibandingkan dengan potensi finansial di kelas yang lebih tinggi.
“Pertarungan di kelas menengah tidak membuat saya bersemangat, tapi ini pekerjaan saya,” ujar Chimaev, dikutip Rabu (17/12/2025).
“Saya harus menghasilkan uang. Kalau saya dapat tiga juta dolar untuk satu laga, tapi ada pertarungan lain yang bisa memberi enam juta, tentu saya akan lebih termotivasi,” lanjutnya.
Chimaev memahami betul bagaimana UFC bekerja sebagai industri hiburan global. Nama besar, daya tarik penonton, dan potensi pay-per-view (PPV) menjadi faktor utama, bukan sekadar peringkat atau kewajiban mempertahankan sabuk.
Secara teknis, penantang paling logis di kelas menengah adalah Nassourdine Imavov. Namun duel itu tidak menawarkan nilai jual besar. Selain pernah berlatih bersama, laga tersebut dinilai minim cerita dan daya ledak komersial.
Opsi lain adalah pemenang duel Sean Strickland vs Anthony “Fluffy” Hernandez pada Februari 2026. Laga itu setidaknya memiliki konflik dan basis penggemar yang lebih luas, tetapi tetap belum menyentuh level “pertarungan emas” yang diincar Chimaev.
Target sesungguhnya berada di divisi 205 pon, yaitu Alex Pereira.
Juara kelas light heavyweight asal Brasil itu bukan hanya pemegang sabuk, melainkan mesin uang UFC. Setiap pertarungan Pereira nyaris selalu menjanjikan PPV tinggi, sorotan global, dan bonus besar. Bagi Chimaev, inilah titik temu sempurna antara ambisi olahraga dan bisnis.
“Itu pertarungan bagus untuk saya. Semua orang tahu itu. UFC tahu itu. Tapi UFC tidak mau memberi saya orang itu.” kata Chimaev.
Pernyataan tersebut mengisyaratkan tarik-ulur kepentingan di balik layar. UFC diyakini masih menimbang momentum terbaik untuk menyajikan duel super bernilai jutaan dolar, terlebih Pereira juga dikaitkan dengan rencana naik kelas demi menghadapi Jon Jones.
Bagi Chimaev, jalurnya sudah jelas, satu pertahanan gelar sebagai formalitas, lalu loncat ke panggung yang lebih besar. Bukan sekadar mengejar status juara dua divisi, tetapi membangun warisan sebagai petarung elite yang memahami permainan bisnis UFC, di mana sabuk juara dan cek bernilai jutaan dolar berjalan beriringan.
Di era modern UFC, Khamzat Chimaev bukan hanya petarung tak terkalahkan. Ia adalah brand, aset, dan komoditas bernilai tinggi yang tahu persis kapan harus bertarung, dan kapan harus menghitung angka.
(Budis)










