JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID – BNPB terus memperbarui data korban akibat bencana alam di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, hingga Selasa (23/12/2025) pukul 12.00 WIB.
Tercatat sebanyak 1.106 orang meninggal dunia, 175 hilang, dan 7 ribu terluka. Hal ini berdasarkan dashboard penanganan darurat banjir dan longsor di tiga provinsi tersebut.
Selain itu, tercatat 158.088 ribu rumah rusak di 52 kabupaten. Bencana ini juga merusak 434 rumah ibadah, 967 fasilitas pendidikan, 219 fasilitas kesehatan, 145 jembatan, 290 gedung/kantor, serta 1,6 ribu fasilitas umum.
40 Huntara bagi Warga Terdampak di Tapanuli Utara
BNPB mulai pengerjaan pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak banjir dan longsor di Kabupaten Tapanuli Utara pada Jumat (19/12).
Pada lahan seluas empat hektar yang berada di Dusun Sibalanga Julu, Desa Sibalanga, Kecamatan Adiankoting ini rencananya akan dibangun sebanyak 40 unit huntara tahap pertama.
Dalam pembangunan huntara, BNPB menggunakan rancangan rumah tumbuh. Artinya, huntara ini nantinya akan dikembangkan juga sebagai hunian tetap (huntap). Luas lahan yang disiapkan untuk per keluarga adalah 6×6 meter, luas bangunan huntara adalah 4×6 meter.
Model huntara menggunakan teknologi rumah instan sehat dan aman atau RISHAM. Satu unit rumah terdiri dari satu ruang tidur, satu ruang utama, dan satu kamar mandi yang dilengkapi dengan septitank. Struktur RISHAM menggunakan rangka beton bertulang.
BNPB menargetkan pembangunan huntara tahap satu ini akan selesai dalam lima minggu. Harapannya, pada bulan Januari 2026 mendatang, hunian ini sudah dapat dimanfaatkan oleh warga terdampak.
Buka Akses di Aceh Utara
Pemerintah terus melakukan pembukaan akses jalan di wilayah terdampak bencana di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara. Kegiatan ini difokuskan pada pembukaan jalan di Dusun Pantai Resip, Desa Gedumbak, serta Dusun Kareng, Desa Bukit Lintang, guna memulihkan konektivitas dan aktivitas warga.
Untuk mendukung percepatan penanganan, sejumlah alat berat dikerahkan di beberapa titik. Sebanyak lima unit ekskavator beroperasi di Dusun Pantai Resip membuka jalan penghubung dusun yang tertutup bongkahan kayu, sementara satu unit ekskavator di Desa Bukit Lintang melakukan pembersihan jalan dari material lumpur.
Selain itu, alat berat juga dioperasikan untuk membuka jalur air yang tergenang di Desa Krunglingka, memperbaiki jalan utama kecamatan yang amblas di Desa Alu Krak, serta membersihkan bongkahan kayu di bendungan Desa Rumoh Rayek. Melalui sinergi lintas sektor ini, pemerintah berupaya memastikan akses masyarakat kembali terbuka dan pemulihan kehidupan warga dapat berjalan.











