JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Banyak orang melihat Valentine sebagai perayaan penuh bunga, cokelat, dan kata-kata manis. Namun jika menelusuri jejak sejarahnya, 14 Februari justru berdiri di atas kisah yang jauh dari romantis.
Di balik kartu ucapan dan makan malam berdua tersimpan cerita tentang ritual kuno, eksekusi tragis, hingga peristiwa pembantaian yang brutal.
Berikut daftar Sejarah Kelam Valentine
1. Lupercalia: Ritual Kesuburan yang Kasar

Jauh sebelum nama “Valentine” dikenal, Romawi Kuno merayakan festival Lupercalia setiap 13–15 Februari. Festival ini bukan pesta cinta, melainkan ritual pembersihan dan kesuburan yang keras.
Para pendeta yang disebut Luperci mengorbankan kambing dan anjing. Kulit hewan tersebut dipotong menjadi tali-tali kecil. Dengan cambuk dari kulit kambing itu, para pria berlari keliling kota dan menyentuh bahkan mencambuk wanita yang mereka temui.
Kepercayaan saat itu menyebut ritual tersebut dapat meningkatkan kesuburan dan mempermudah persalinan. Bagi standar modern, praktik ini terdengar brutal. Namun dalam konteks Romawi Kuno, ia dianggap sakral dan membawa keberuntungan.
Tradisi inilah yang kemudian diyakini menjadi fondasi awal perayaan pertengahan Februari.
2. Eksekusi Tragis Santo Valentinus

Nama Valentine diyakini merujuk pada figur martir Kristen abad ke-3. Salah satu tokoh yang paling sering disebut adalah Valentinus of Rome.
Pada masa pemerintahan Kaisar Claudius II, pernikahan bagi pria muda dilarang. Sang kaisar percaya pria lajang lebih efektif sebagai prajurit. Namun Valentinus diduga diam-diam menikahkan pasangan muda secara Kristen. Tindakan ini dianggap pembangkangan.
Versi lain menyebut tokoh Valentinus of Terni juga dihukum mati karena membantu umat Kristen yang dipenjara.
Akhir keduanya sama-sama tragis: dipukuli dan dipenggal. Tanggal eksekusi disebut terjadi pada 14 Februari sekitar tahun 269 M. Dari sinilah tanggal tersebut mulai dikaitkan dengan nama “Valentine”.
Ironisnya, yang kini dirayakan sebagai simbol cinta justru berakar dari hukuman mati.
3. Pembantaian Hari Valentine 1929

Sejarah modern mencatat 14 Februari sebagai hari kelam lain. Pada 1929, di Chicago, tujuh anggota geng saingan dijajarkan di sebuah gudang dan ditembak mati oleh orang-orang yang menyamar sebagai polisi.
Peristiwa ini dikenal sebagai Saint Valentine’s Day Massacre dan sering dikaitkan dengan jaringan kejahatan yang berhubungan dengan Al Capone.
Media saat itu menggambarkan 14 Februari sebagai simbol kekerasan geng, bukan romansa. Nama Valentine kembali diselimuti bayangan darah—kali ini dalam konteks kriminal modern.
Baca Juga:
50 Ucapan Valentine Paling Berkelas, Bukan Gombal Murahan!
Jangan Kasih Bunga! Ini 5 Kado Valentine Untuk Pecinta Motor
4. Dari Pagan ke Komersial
Sejumlah sejarawan meyakini Gereja Katolik berupaya “mengkristenkan” Lupercalia dengan menggantinya menjadi Hari Santo Valentine, guna menghapus tradisi pagan. Transformasi ini perlahan menggeser makna dari ritual kesuburan menjadi peringatan martir.
Baru pada abad ke-14, melalui karya Geoffrey Chaucer, 14 Februari mulai diasosiasikan dengan cinta romantis. Dalam puisinya, ia mengaitkan tanggal tersebut dengan musim kawin burung di Inggris. Imaji sastra itu perlahan mengubah narasi publik.
Masuk era industri, kartu ucapan dan cokelat mengambil alih panggung. Perayaan menjadi komoditas. Hari yang dulu sarat darah berubah menjadi ladang bisnis global.
Namun di balik romantisme massal itu, muncul kritik baru soal tekanan sosial. Ekspektasi hadiah, pasangan, dan momen sempurna justru memicu rasa terasing bagi sebagian orang.
Valentine bukan sekadar hari penuh mawar merah. Ia adalah hasil evolusi panjang dari ritual berdarah Romawi, eksekusi martir, tragedi kriminal, hingga komersialisasi modern.
(Dist)
