JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Publik tengah digegerkan dengan sosok make-up artist (MUA) asal Lombok yang dikenal dengan nama “Dea Halipa” atau “Dea Lipa”. Sosok ini mendadak menjadi viral lantaran munculnya tudingan bahwa Dea sebenarnya adalah seorang pria bernama Deni, yang selama ini bekerja sambil menyamar sebagai perempuan berhijab. Kasus tersebut langsung viral dan memicu perdebatan luas mengenai etika profesi dalam dunia kecantikan.
Menghimpun unggahan Instaram @feedgramino, MUA tersebut kerap tampil sangat feminin dengan kulit glowing, tubuh ramping, serta kemampuan merias pengantin yang terbilang profesional—diduga kuat merupakan Deni, warga Desa Mujur, Lombok Tengah. Penampilannya yang meyakinkan membuat banyak klien tidak pernah mencurigai identitas dirinya.
Kontroversi mulai pecah setelah sebuah unggahan di Facebook oleh Diana Arkayanti memperlihatkan foto Dea yang memakai hijab. Dalam unggahan tersebut, disebutkan bahwa Dea adalah seorang pria yang menggunakan hijab dan bekerja sebagai MUA di Lombok.
Nama asli Dea kemudian dikaitkan dengan sosok bernama Deni, yang disebut-sebut sering merias klien perempuan sambil mengenakan hijab dalam tugas profesionalnya. Kasus ini bahkan dibandingkan warganet dengan fenomena “Sister Hong” di China, di mana seorang pria menyamar sebagai wanita untuk bekerja.
BACA JUGA:
Viral! Susu MBG kadaluwarsa di Kabupaten Kuningan, Bikin Orang Tua Murid Tak Tenang
Viral! Mobil Bank BNI Bawa Uang Miliraran Berakhir Terbakar di Polewali Mandar
Bersangkutan pun hadir ke publik, setelah unggahannya tersebar luas di media sosial. Dalam konferensi persnya, MUA yang dijuluki ‘Sister Hong Lombok’ itu merupakan penyintas disabilitas dengan keterbatasan pendengaran.
“Saya beragama Islam. Sejak kecil saya tinggal bersama nenek dari pihak ibu, karena kedua orang tua saya bekerja sebagai tenaga migran,” katanya Sabtu (15/11) sore.
Ia juga mengatakan, saat masih duduk pada sekolah dasar (SD). tidak bisa melanjutkan pendidikannya, lantaran perundungan di lingkungannya.
“Tidak memiliki cukup dukungan untuk melanjutkan sekolah. Setelah nenek saya wafat ketika saya kelas VI SD, saya banyak belajar bertahan hidup secara mandiri,” katanya.
Terkait keahliannya menjadi MUA, ia mengklaim belajarotodidak melalui youtube dan media social yang saat ini semakin berkembang. Dengan keahliannya yang dimiliki bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.
“Melalui pekerjaan inilah saya merasa bisa berdiri di atas kaki saya sendiri, memenuhi kebutuhan hidup, dan perlahan memperoleh rasa percaya diri,” katanya.
Ia pun tak membantah, bahwa dirinya sempat menggunakan jilbab layaknya perempuan. Sebab menurutnya, jilbab adalah simbol kecantikan, kelembutan, dan kehormatan seorang perempuan Muslimah.
“Saya kagumi sejak bertahun-tahun lalu. Saya sama sekali tidak berniat menjadikan busana itu sebagai alat untuk menipu atau melecehkan siapapun. Itu adalah bentuk ekspresi diri saya yang lahir dari kekaguman dan keinginan melindungi diri dari pelecehan,” tegasnya.
(Saepul)









