BANDUNG,TEROPONGMEDIA.ID — Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, menegaskan kesehatan lingkungan dan ancaman penyakit menular sangat penting dan perlu di perhatikan lebih.
“Problem di sini sangat khas. Ini kawasan padat dengan tingkat kelahiran tinggi. Kami menemukan 62 kasus TBC aktif dan sekitar 200 suspek yang sedang dipantau,” kata Farhan di Kelurahan Pelindung Hewan.
Menurutnya, penularan tuberkulosis (TBC) di wilayah tersebut telah menjangkiti seluruh kelompok usia, mulai dari balita hingga lanjut usia.
“Padatnya rumah dan sanitasi yang belum ideal mempercepat penyebaran penyakit. Ini tantangan serius,” ucapnya.
Selain menyoroti kesehatan, Farhan juga meninjau titik rawan banjir di depan kantor kelurahan. Di lokasi itu, genangan air kerap muncul akibat saluran drainase tersumbat sampah rumah tangga, dirinya langsung memerintahkan dinas terkait untuk melakukan pembersihan di tempat.
Baca Juga:
Kawasan Bebas Sampah, Ambisi Wali Kota Bandung Terbentur Realita di Lapangan
Hadapi Ancaman Penumpukan Sampah, Wali Kota Bandung Dorong RW Kelola Sampah Secara Mandiri
“Begitu ditemukan sumbatan, langsung kita bereskan. Saya tidak mau kunjungan hanya sebatas memotret masalah, tapi harus ada penyelesaiannya,” tegasnya.
Di sisi lain, Farhan mengapresiasi kreativitas warga Pelindung Hewan yang mulai mengintegrasikan program Buruan Sae dengan Dapur Dahsyat sebagai langkah menekan angka stunting. Panen sayur dari kebun warga dimanfaatkan untuk bahan masakan bergizi di dapur komunitas tingkat RW.
“Saya senang karena masyarakat sudah bergerak. Ini contoh kolaborasi antara kesehatan, lingkungan, dan ketahanan pangan,” ujarnya.
Farhan menyebut pola ini sebagai ‘Segitiga Penting’ antara kader kesehatan, warga, dan pemerintah sinergi yang dinilainya dapat memperkuat daya tahan lingkungan dan memperbaiki pola hidup masyarakat.
Data Kelurahan Pelindung Hewan mencatat terdapat sekitar 500 rumah, dengan 180 di antaranya merupakan kos-kosan dan rumah sewa. Total penduduk mencapai 2.400 jiwa, dengan rata-rata lima orang per rumah.
“Kepadatan seperti ini masih dalam batas wajar, tapi dengan rumah-rumah kecil dan jarak antar bangunan yang rapat, risiko penularan penyakit tetap tinggi. Kita akan lihat ulang tata ruang dan sistem sanitasi,” katanya.
Farhan juga menegaskan, hasil pemantauan lapangan tidak akan berhenti di catatan laporan. Beberapa titik di wilayah ini akan diusulkan masuk dalam program perbaikan pemukiman dan sanitasi lingkungan.
Farhan menekankan, program Siskamling Siaga Bencana harus menjadi wadah aksi nyata pemerintah bersama masyarakat, bukan sekadar kegiatan seremonial.
“Yang penting bukan hanya datang dan melihat masalah, tapi memastikan ada perubahan nyata. Data TBC akan kita tindaklanjuti dengan perbaikan sanitasi, dan drainase yang tersumbat langsung dibersihkan,” ujarnya.
Melalui pendekatan lintas isu dari bencana, kesehatan, hingga lingkungan Pemkot Bandung berupaya menanamkan budaya tangguh bencana sekaligus sadar lingkungan di setiap kelurahan.
“Lingkungan yang sehat adalah benteng pertama dari semua bencana, termasuk bencana kesehatan,” pungkasnya.
(Kyy/_Usk)











