Waspada Serangan Siber pada Satelit, Begini BRIN Beberkan Strategi Pengamanannya

Waspada Serangan Siber pada Satelit, Begini BRIN Beberkan Strategi Pengamanannya
Ilustrasi-Sebuah Satelit (pixels)
-

Tidak ada video disisipkan.

BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Periset Pusat Riset Teknologi Satelit – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dicka Ariptian Rahayu, menyatakan bahwa satelit menjadi aset penting yang perlu dilindungi. Sebab, satelit berkaitan dengan pertahanan, navigasi, komunikasi, dan intelijen.

Menurutnya, Perang modern tidak hanya terjadi di darat, laut, dan udara, tapi juga di ruang siber dan luar angkasa. Salah satu target strategis dalam konflik siber adalah satelit.

“Kerusakan atau gangguan pada sistem satelit menjadi gangguan besar pada operasi militer dan sipil,” kata Dicka, saat menyampaikan materi bertema “Pengamanan Satelit dari Serangan Siber”, dalam Kuliah Kerja Pasis Seskoau Angkatan 62 dan Sesau Angkatan 19 Tahun 2025, di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Rancabungur, Bogor, Senin (14/4 2025).

BACA JUGA:

BRIN Kembangkan Sistem Deteksi Ladang Ganja Ilegal, Gunakan Satelit!

Satelit Merah Putih Dua Telkomsat Akan Diluncurkan di Florida

Mengutip laman resmi BRIN, Dicka menyampaikan, terdapat beberapa jenis serangan siber, di antaranya hacking, jamming, spoofing, dan malware. Hacking (ground or space segment) dilakukan dengan melakukan akses ilegal pada sistem kendali satelit maupun stasiun bumi. Jamming dilakukan dengan mengganggu sinyal radio antara satelit dan stasiun bumi sehingga menyebabkan hilangnya komunikasi.

Spoofing dilakukan dengan mengirim sinyal palsu untuk menipu sistem penerima sehingga bisa menyebabkan pesawat atau peluru kendali tersesat. Sedangkan malware dilakukan dengan menyusup ke perangkat lunak kontrol satelit maupun stasiun bumi. Akibatnya bisa menonaktifkan, memanipulasi, hingga merusak data satelit.

“Pada 2022, pernah terjadi serangan siber terhadap jaringan satelit Viasat yang memutus komunikasi militer dan sipil di Eropa Timur,” ungkap Dicka.

Satelit milik BRIN pun pernah menjadi target serangan siber. Pada 2011, satelit LAPAN-A1/LAPAN-TUBSAT diserang dengan teknik social engineering untuk mendapatkan akses, melakukan command atau perintah, hingga mengaktifkan reaction wheel satelit.

“Serangan seperti ini berpotensi mengganggu hubungan internasional terkait pemanfaatan teknologi ruang angkasa. Untuk mengantisipasinya, kami mengubah kode kata (code word) dalam komunikasi satelit guna mencegah penyalahgunaan lebih lanjut,” terangnya.

Dicka menjelaskan, untuk mencegah serangan siber pada satelit diperlukan beberapa strategi. Pada stasiun bumi perlu membangun firewall, intrusion detection system (IDS), intrusion prevention system (IPS), serta segmentasi jaringan untuk perlindungan awal. Diperlukan juga enkripsi kontrol satelit untuk mencegah akses ilegal, kontrol akses fisik, pencegahan social engineering, mitigasi phishing, serta sistem cloud yang aman.

“Ground segment ini merupakan pintu masuk paling rentan, perlu pengawasan ekstra,” lanjutnya.

Pada segmen link diperlukan enkripsi transmisi data, baik uplink maupun downlink, untuk menjaga kerahasiaan. Diperlukan juga anti-jamming systems guna menangkal gangguan sinyal, penggunaan protokol seperti space data link security (SDLS) untuk integritas, autentikasi, dan perlindungan dari replay attack.

Dicka mengungkapkan, upaya pencegahan serangan siber dapat mengikuti standar dan pedoman keamanan siber. Salah satunya National Institute of Standards and Technology (NIST) Cybersecurity Framework for Space Systems yang memberikan pedoman praktik untuk mengamankan sistem ruang angkasa, termasuk satelit dan mengelola risiko siber.

Framework ini mencakup lima fungsi utama, yaitu mengidentifikasi, melindungi, mendeteksi, menanggapi, serta memulihkan, untuk meminimalkan ancaman terhadap kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan data satelit.

“Ada juga UN Guidelines for Space Security dari PBB, yang menjadi pedoman internasional untuk memastikan penggunaan ruang angkasa yang aman, damai, dan bertanggung jawab oleh semua negara. Pedoman ini mempromosikan transparansi dalam aktivitas ruang angkasa dan pengurangan risiko konflik,” tuturnya.

Dicka menekankan bahwa satelit adalah aset vital bagi pertahanan, komunikasi, dan kepentingan nasional. Kerusakan pada sistem ini dapat mengganggu stabilitas infrastruktur negara.

“Ancaman siber terhadap satelit bukan lagi fiksi ilmiah. Serangan nyata seperti hacking, jamming, spoofing, phishing, bahkan social engineering telah terjadi dan dapat menargetkan satelit militer, komersial, maupun sipil,” pungkasnya.

(Usk)

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
OJK Jabar
Penipuan Investasi Mantan Pegawai Bank Mandiri Taspen di Purwokerto, OJK Minta Korban Segera Melapor
500 Musisi Meriahkan Bandung Kota Angklung Festival 2026
500 Musisi Meriahkan Bandung Kota Angklung Festival 2026
Pameran Persib Hadir di Braga, Suguhkan Identitas Bobotoh Melalui Karya Seni
Pameran Persib Hadir di Braga, Suguhkan Identitas Bobotoh Melalui Karya Seni
Dihadiri Bupati Bandung, KH Ubaidillah Ruhiat Lantik Wakil Ketua DPR RI Jadi Ketua Alumni Cipasung
Dihadiri Bupati Bandung, KH Ubaidillah Ruhiat Lantik Wakil Ketua DPR RI Jadi Ketua Alumni Cipasung
maroko brazil
Prediksi Skor Maroko vs Norwegia: Duel Dua Tim Kuda Hitam Piala Dunia 2026
Berita Lainnya

1

Threads Melonjak Pesat, Jadi Penantang X Milik Elon Musk

2

3

Tips Mengobati Luka Melepuh Akibat Gigitan Tomcat, Jangan Digaruk!

4

Prediksi Skor Sporting vs Bodo/Glimt Liga Champions 2025/2026, Misi Comeback Lions di Liga Champions

5

Studio Alam Gamplong, Destinasi Perfilman Favorit di Sleman
Headline
rupiah hari ini
Rupiah Diprediksi Tembus Rp19.000 Akhir Juni 2026, The Fed Jadi Sorotan!
Farhan Bandung Siap Jadi Kota Terdepan Implementasi AI Pelayanan Publik
Farhan: Bandung Siap Jadi Kota Terdepan Implementasi AI Pelayanan Publik
Darurat Sampah Tidak Disetujui, Pemkot Bandung Siapkan Solusi Mandiri
Darurat Sampah Tidak Disetujui, Pemkot Bandung Siapkan Solusi Mandiri
dadan
Geser Dadan Hindayana, Prabowo Tunjuk Naniek Deyang Jadi Kepala BGN yang Baru