BABDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Kasus penyiksaan dan pembunuhan terhadap Junko Furuta, gadis berusia 17 tahun yang menjadi korban penculikan dan kekerasan selama 44 hari pada akhir tahun 1988, hingga kini masih menyisakan luka mendalam bagi masyarakat Jepang.
Kejadian mengerikan yang menimpa Junko disebut sebagai salah satu kejahatan seksual paling brutal yang dilakukan remaja di bawah umur dalam sejarah modern negeri tersebut.
Tragedi memilukan itu bahkan telah diangkat ke layar lebar beberapa kali. Setidaknya ada tiga film yang mencoba menggambarkan kembali kisah tragis Junko Furuta dengan pendekatan dan penerimaan publik yang berbeda-beda.
1. Shonen no Hanzai (Juvenile Crime) 1997
Film pertama yang mengangkat kisah ini adalah Shonen no Hanzai atau Juvenile Crime, disutradarai oleh Gunji Kawasaki. Film berdurasi 77 menit ini dirilis pada tahun 1997 dan dibintangi oleh Nao Otake, Hajime Mao, Kazu Itsuki, dan Kouichi Imaizumi.
Kisahnya mengikuti alur nyata tragedi yang dialami Junko pada November 1988, ketika empat remaja laki-laki menculik dan menyandera seorang siswi SMA di rumah salah satu pelaku.
Namun, meski menggugah perhatian publik, film ini menuai banyak kritik. Banyak pihak menilai penyajiannya terlalu eksploitatif dan kurang menghormati martabat korban maupun keluarganya.
Baca Juga:
Nama Junko Furuta Kembali Jadi Sorotan, Kasus Tragis 1988 Bangkitkan Luka Lama di Jepang
Dihujam Kecaman, Nessie Judge Unggah Video Permintaan Maaf Tampilkan Foto Junko Furuta
2. Concrete-Encased High School Girl Murder Case: Broken Seventeen-Year-Olds 1995
Sebelum Juvenile Crime dirilis, sutradara Katsuya Matsumura terlebih dahulu mengangkat kisah serupa lewat film Joshikosei konkurito-zume satsujin-jiken: Kowareta sebuntin-tachi, atau dikenal dengan judul internasional Concrete-Encased High School Girl Murder Case: Broken Seventeen-Year-Olds.
Film ini dirilis pada tahun 1995, dibintangi oleh Yujin Kitagawa dan Satoru Saito, dan mendapat rating 4.6/10 di IMDb. Meski berupaya menggambarkan sisi gelap psikologis para pelaku remaja. Film ini juga dikritik karena dianggap terlalu keras dan menimbulkan trauma bagi penontonnya.
3. Concrete 2004
Film terakhir yang paling banyak dipuji adalah Concrete garapan Hiromu Nakamura yang rilis tahun 2004. Dengan durasi 1 jam 53 menit, film ini dibintangi oleh Katsuya Kobayashi, Miki Komori, dan Masanori Ma.
Berbeda dari dua film pendahulunya, Concrete mendapat respon lebih positif karena dinilai lebih berimbang dan tidak berlebihan dalam menggambarkan kekejaman yang dialami Junko. Film ini mencoba menyoroti sisi kemanusiaan dan dampak sosial dari tragedi tersebut, bukan hanya kekerasannya.
Banyak penonton mengaku merasakan kepedihan mendalam ketika melihat penderitaan Junko di layar. Seolah menyaksikan kembali bagaimana kekejaman itu terjadi secara nyata.
Meski tiga film ini lahir dari tragedi yang sama, semuanya meninggalkan jejak emosional yang kuat bagi publik Jepang dan dunia. Kisah Junko Furuta kini bukan sekadar catatan kriminal, melainkan pengingat abadi tentang batas kemanusiaan dan pentingnya perlindungan bagi korban kekerasan.
(Hafidah Rismayanti/Budis)











