JAKARTA, TEROPONGEMDIA.ID — Jagat media sosial dihebohkan oleh unggahan selebgram Larasati Salma Tsurayya. Pemilik akun Threads @lilulahfahh itu membagikan tangkapan layar Direct Message (DM) yang diduga dikirim oleh seleb TikTok kontroversial, Satria Mahathir, yang akrab disapa Cogil.
Dalam unggahan tersebut, terlihat pesan bernada ajakan yang kemudian memicu perdebatan luas di kalangan warganet.
Isi DM yang Jadi Sorotan
Dalam tangkapan layar yang dibagikan, akun atas nama Satria Mahathir menuliskan pesan:
“kapan kita bikin 21+ buat tiktok. minta whatsapp km ka,” tulis Satria Mahathir dalam DM kepada Larasati, dikutip Selasa (3/3/2026).
Alih-alih mengabaikan atau memblokir pesan tersebut, Larasati justru mempublikasikannya ke publik melalui akun media sosialnya.
Langkah ini sontak mengundang beragam reaksi.

Bukannya Dapat Simpati, Justru Diserang
Yang mengejutkan, sebagian besar komentar justru tidak berpihak pada Larasati.
Banyak netizen mempertanyakan motif di balik unggahan tersebut. Sebagian menilai bahwa tindakan mempublikasikan DM tersebut terkesan seperti ajang pamer karena mendapat pesan dari figur publik, meski figur itu dikenal kontroversial.
Beberapa komentar bernada sindiran pun bermunculan, mempertanyakan apakah unggahan tersebut bertujuan menaikkan “nilai” sosial di mata publik.
Baca Juga:
Adik Darius Sinathrya Tak Diakui Sang Ayah Usai Jadi Mualaf, Ceritanya Sangat Mengharukan
Postingan Terakhir Raihan UIN Suaka untuk Fara Bikin Netizen Merinding
Satria Mahathir atau Cogil memang bukan nama baru dalam pusaran kontroversi media sosial.
Rekam jejaknya yang kerap disorot publik membuat DM tersebut semakin memancing perhatian.
Sejumlah warganet bahkan memberikan peringatan kepada Larasati, mengaku memiliki pengalaman atau cerita terkait karakter Satria dalam hubungan pribadi.
Namun hingga kini, belum ada klarifikasi resmi dari kedua belah pihak mengenai konteks lengkap percakapan tersebut.
Fenomena Screenshot Culture di Media Sosial
Kasus ini juga kembali menyoroti fenomena “screenshot culture” di era digital.
Publik figur kini berada dalam situasi di mana percakapan privat dapat dengan mudah menjadi konsumsi publik hanya dalam hitungan menit.
Di satu sisi, publikasi pesan dapat dianggap sebagai bentuk transparansi atau peringatan. Namun di sisi lain, langkah tersebut juga berisiko memicu perdebatan dan serangan balik.
(Dist)







