JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Alissa White-Gluz menyatakan hengkang dari dari band melodic death metal asal Swedia Arch Enemy setelah 12 tahun mengisi posisi vokalis. Alissa pun memutuskan memulai karier dalam belantika musik lewat proyek solo.
Alissa mulai mengisi vokal untuk Arch Enemy pada 2014, ketika ia menggantikan Angela Gossow—vokalis legendaris yang membawa band ini masuk jajaran papan atas death metal.
Banyak yang skeptis saat itu. Namun, keraguan itu langsung hilang ketika “War Eternal” dirilis. Album tersebut bukan hanya sukses besar, tetapi juga memperkenalkan nuansa baru yang lebih melodis, dramatis, dan tebal secara emosi.
Selama 12 tahun, Alissa berkontribusi pada empat album penting seperti War Eternal (2014), Will To Power (2017), Deceivers (2022), dan Blood Dynasty (2025). Era ini sering disebut fans sebagai periode paling powerfull sejak kebangkitan band di awal 2000-an.
Pernyataan Perpisahan yang Singkat Tanpa Drama
Melansir NME, Senin (24/11/2025), Arch Enemy mengkonfirmasi kabar ini lewat unggahan instagram dengan hanya menuliskan ucapan terima kasih disertai satu pesan yang menimbulkan banyak spekulasi: “See you in 2026.”
Tak ada detail tambahan mengenai alasan perpisahan atau pun rencana mereka ke depan.

Sementara itu, Alissa menulis pesan hangat kepada para penggemarnya yang ia sebut “Beastlings”. Ia menyebut perjalanan panjangnya bersama Arch Enemy sebagai pengalaman tak tergantikan dan menegaskan bahwa ia siap menuju fase baru yang lebih personal.
Alissa White-Gluz langsung merilis Single Solo
Sebagai salam pembuka babak baru karir musiknya, Alissa langsung merilis single solo berjudul “The Room Where She Died.” Lagu ini bukan hanya debut musikal, tetapi juga pernyataan artistik.
Ia mengaku menulis sendiri skenario video musiknya yang menunjukkan bahwa proyek solonya akan jauh lebih bebas, visual, dan personal.
Dalam unggahannya, ia juga mengisyaratkan bahwa album solo yang sedang ia garap akan beragam secara gaya, lebih eksperimental, dan penuh kejutan—sesuatu yang mungkin tidak sepenuhnya terlepas dari Arch Enemy.
Baca juga:
Konser Terakhir Black Sabbath “Back To The Beginning” Jadi Aksi Amal Terbesar Dalam Sejarah
Pentagon Pakai Lagu “Enter Sandman” Tanpa Izin, Metallica Geram Minta Takedown!
Kolaborasi yang Menyingkap Sisi Lain Alissa
Sepanjang kariernya, Alissa dikenal sebagai vokalis yang tidak segan menabrak batas genre. Salah satu kolaborasi yang paling mencuri perhatian adalah ketika ia tampil bersama DragonForce membawakan cover “Wildest Dreams” milik Taylor Swift. Momen itu menunjukkan betapa fleksibelnya karakter vokalnya, sekaligus memperlihatkan selera eksploratif yang jarang dimiliki vokalis death metal.
Arch Enemy Masuki Masa Transisi
Di sisi lain, Arch Enemy tetap meneruskan misi bermusik mereka. Mereka baru menuntaskan tur Eropa dan dijadwalkan tampil di beberapa festival besar musim panas mendatang.
Namun, posisi vokalis baru masih menjadi misteri. Hingga saat ini belum ada sosok pengganti yang diumumkan.
Dengan rekam jejak sejak 1995 dan 11 album studio, Arch Enemy memang bukan band yang asing dengan pergantian personel. Tetapi perubahan vokalis selalu menjadi titik penting dan kali ini terasa lebih signifikan karena Alissa telah membentuk identitas band selama satu dekade penuh.
Perpisahan ini bukan sekadar perubahan nama di line-up. Ini adalah momen transisi besar dalam dua perjalanan musik. Bagi Arch Enemy, ini berarti memulai pencarian arah baru tanpa suara yang telah melekat selama 12 tahun. Bagi Alissa, ini adalah deklarasi kemerdekaan artistik yang memberikan ruang lebih luas untuk bereksperimen.
(Dist)



