SULUT, TEROPONGMEDIA.ID – Banjir bandang yang menerjang Kelurahan Bahu, Lingkungan III, Kecamatan Siau Timur, Kabupaten Kepulauan Siau-Tagulandang-Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, meninggalkan dampak serius bagi warga. Selain menewaskan enam orang, bencana yang terjadi pada Senin (dini hari) itu juga memaksa puluhan keluarga mengungsi dan memutus akses vital antarwilayah.
Pemerintah daerah mencatat sedikitnya 35 kepala keluarga atau 108 jiwa harus meninggalkan rumah mereka akibat luapan air bercampur material lumpur dan bebatuan. Untuk sementara, para pengungsi ditampung di Kantor Kelurahan Bahu, sebelum dipindahkan ke Museum Kelurahan Tarorane sebagai lokasi pengungsian lanjutan.
Bupati Kepulauan Sitaro Cinthya Ingrid Kalangit melalui Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan (Kabag Prokopim) Deddy Passandaran mengatakan, selain korban jiwa, bencana ini juga menyebabkan sejumlah warga masih dinyatakan hilang serta beberapa lainnya mengalami luka-luka.
“Selain korban jiwa, beberapa rumah hilang, masih ada warga yang belum ditemukan, serta korban luka-luka,” ujar Deddy, dikutip dari Antara, Senin (5/1/2026).
Baca Juga:
Basarnas: Korban Meninggal Banjir Bandang Sumatera Barat 59 Orang
Enam korban meninggal dunia masing-masing bernama Ratmon Bangsa, Fardelin Tamalonggehe, Yance Tamalonggehe, Lorensi Bawolce, Yoan Bangsa, dan Santi Diamanis. Sementara itu, empat warga masih dalam pencarian, termasuk seorang bayi.
Banjir bandang yang terjadi sekitar pukul 02.30 Wita itu dipicu oleh hujan deras dengan intensitas tinggi. Arus air yang kuat menyeret sedikitnya lima rumah warga hingga hilang, serta menutup akses jalan penghubung antara Kelurahan Bahu dan Pangirolong, Kecamatan Siau Timur dan Siau Timur Selatan.
Hingga kini, aparat bersama warga masih melakukan pendataan lanjutan serta upaya penanganan darurat, termasuk pencarian korban yang belum ditemukan dan pemulihan akses jalan yang tertimbun material banjir.











