BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan bahwa bencana yang melanda sejumlah daerah bukan hanya menjadi tantangan, tetapi juga momentum untuk membangun sistem pendidikan yang lebih tangguh. Melalui Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), pemerintah menyiapkan kebijakan berlapis agar layanan belajar tetap berlanjut tanpa mengorbankan keselamatan dan kesejahteraan psikologis siswa.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menuturkan bahwa setiap daerah memiliki tingkat kerusakan sekolah yang berbeda, sehingga pola pembelajaran harus ditentukan oleh pemerintah daerah berdasarkan kondisi riil di lapangan.
“Bencana ini menguji ketangguhan pendidikan kita. Karena itu, fleksibilitas wajib diterapkan, namun keselamatan murid tetap nomor satu,” jelasnya di Jakarta, Kamis (11/12/2023).
Pola Belajar Berubah Jadi Adaptif
Di wilayah yang terdampak berat, sekolah-sekolah tidak lagi terikat format tunggal. Beberapa daerah menerapkan:
- pembelajaran shift pagi–siang,
- pembelajaran daring,
- penggabungan kelas di sekolah yang masih aman,
- hingga membuka ruang belajar di tenda darurat.
Model asesmen pun dirombak menyesuaikan situasi. Pemerintah daerah diperbolehkan meniadakan ujian semester dan menggantinya dengan penilaian harian atau aktivitas berbasis proyek sosial.
Kebijakan Berjenjang: 3 Bulan, 12 Bulan, 3 Tahun
Kepala BSKAP Toni Toharudin menekankan bahwa pemulihan pendidikan pascabencana kini memakai kerangka panjang yang sistematis:
- Tiga bulan pertama:
Fokus pada kurikulum esensial, bahan belajar darurat, dukungan psikososial, dan asesmen sederhana. - Tiga hingga dua belas bulan:
Pemulihan kemampuan dasar murid melalui kurikulum adaptif krisis dan program remedial intensif. - Satu hingga tiga tahun:
Penguatan kualitas pembelajaran, integrasi pendidikan kebencanaan permanen, serta monitoring jangka panjang literasi, numerasi, dan kesejahteraan murid.
Baca Juga:
Christin Novalia Simanjuntak Tinjau Kondisi Keamanan SMAN Rancakalong Pasca Bencana
Panduan Pendidikan Kebencanaan Sudah Disusun
BSKAP juga telah menyusun Panduan Implementasi Pendidikan Kebencanaan sebagai acuan tiap sekolah untuk mempersiapkan diri menghadapi bencana. Panduan ini dilengkapi peta kompetensi kebencanaan untuk tiap jenjang dan dapat diintegrasikan ke mata pelajaran tertentu.
“Kami punya peta jalan pemulihan. Tujuannya bukan hanya memulihkan layanan belajar, tetapi membangun ketahanan sekolah di masa depan,” tegas Toni.
Melalui pendekatan ini, Kemendikdasmen memastikan bahwa pendidikan tidak berhenti meski bencana melanda, justru diarahkan menjadi lebih siap, adaptif, dan tangguh.
(Budis)











