JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID – Gejolak harga bahan baku plastik mulai merembet ke sektor pangan nasional. Namun, Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan langkah antisipatif telah disiapkan untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus stabilitas pasokan.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengungkapkan pihaknya telah mengkaji dampak kenaikan harga plastik terhadap komoditas utama seperti beras dan gula.
“Kami sudah menghitung dampaknya, termasuk berapa kenaikan per kilogram pada beras dan gula jika terjadi gangguan pasokan plastik,” ujarnya di Jakarta.
Menurutnya, gangguan pasokan plastik dipicu oleh dinamika global, khususnya terkait bahan baku biji plastik yang merupakan turunan dari industri minyak bumi—banyak dipasok dari kawasan Timur Tengah. Kondisi geopolitik turut memperburuk distribusi dan harga.
Dampaknya mulai dirasakan pelaku usaha pangan, terutama yang bergantung pada kemasan karung plastik. Dari hasil penyerapan aspirasi, kenaikan biaya kemasan diperkirakan menambah harga beras sekitar Rp350 per kilogram dan gula sekitar Rp150 per kilogram.
Baca Juga:
Harga Plastik Naik Meroket, RI Buru Pasokan Nafta ke India-AS
Meski demikian, Bapanas menilai fluktuasi harga pangan sejauh ini masih dalam batas wajar. Berdasarkan pemantauan hingga 16 April, harga beras medium di berbagai wilayah relatif stabil dan masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET).
Di zona 1, harga beras hanya naik tipis 0,01 persen menjadi Rp12.965 per kg. Sementara di zona 2 meningkat 0,27 persen menjadi Rp13.622 per kg, dan zona 3 naik 0,65 persen menjadi Rp15.154 per kg.
Untuk komoditas gula, tren kenaikan terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia, kecuali Indonesia Timur yang justru mengalami penurunan harga. Secara nasional, harga gula naik sekitar 2,06 persen menjadi Rp18.615 per kg.
Bapanas menegaskan akan memperkuat koordinasi lintas kementerian untuk meredam dampak lanjutan. Langkah ini dilakukan bersama Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan guna memastikan pasokan plastik tetap aman bagi industri pangan.
Di sisi lain, Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut industri petrokimia dan plastik nasional sejatinya masih memiliki stok yang cukup. Namun, pemerintah tetap waspada terhadap perkembangan global yang berpotensi mengganggu produksi dan distribusi.










