BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Cole Palmer bukan cuma jago mencetak gol, dia juga cerdik memanfaatkan ketenaran. Bintang Chelsea berusia 23 tahun ini baru saja mendapat persetujuan resmi dari Kantor Kekayaan Intelektual Inggris (Intellectual Property Office) untuk mendaftarkan merek dagang “Cold Palmer”. Julukan yang melekat padanya sejak selebrasi ikoniknya viral di media sosial.
Langkah ini memastikan tidak ada pihak lain yang bisa menggunakan istilah “Cold Palmer” untuk keperluan komersial tanpa izin dari Palmer atau dari perusahaan manajemennya, Palmer Management Limited. Dengan kata lain, setiap produk yang ingin menggunakan nama tersebut harus melalui negosiasi bisnis terlebih dahulu. Dan potensi bisnisnya? Sangat luas.
Daftar Produk yang terkesan nyeleneh
Dalam merek dagangnya, Palmer mencantumkan daftar produk yang tergolong tidak biasa. Mulai dari pakaian, mainan, sepatu bola, hingga yang mengundang tanya layaknya sabun, garam spa, pisau cukur, casing ponsel, alat tulis, boneka beruang, drone, dan bahkan kendaraan bawah laut.
Ya, Anda tidak salah baca. Drone dan kendaraan bawah laut.
Apakah Palmer berencana jadi Tony Stark versi sepakbola? Tidak ada yang tahu. Tapi yang jelas, dia dan timnya sedang mempersiapkan ekosistem brand yang komprehensif—bukan sekadar jersey atau sepatu seperti kebanyakan pemain bola.
Kisruh dengan Perkebunan Anggur Prancis
Proses pendaftaran merek dagang ini sempat terhambat drama dengan Château Palmer, sebuah perkebunan anggur ternama di dekat Bordeaux, Prancis. Winery yang berdiri sejak 1814 itu keberatan dengan aplikasi Palmer karena khawatir brand mereka akan tercoreng jika sang pemain ikut menggunakan nama serupa untuk produk minuman anggur.
Tim hukum Palmer merespons dengan cerdik: mereka mengamandemen aplikasi dan menghapus kategori wine dari daftar produk. Masalah selesai, aplikasi disetujui. Tapi menariknya, Palmer masih bisa menggunakan brand tersebut untuk minuman keras lain seperti liqueur dan spirits. Jadi jangan kaget kalau suatu hari ada vodka atau gin bermerek “Cold Palmer” di pasaran.
Baca Juga:
Prediksi Arsenal vs Chelsea Liga Inggris, Pertaruhan Rival se-Kota!
Chelsea Juga Harus Bayar Kalau Mau Pakai
Inilah bagian paling menarik: Chelsea, klub yang menggajinya, justru tidak otomatis bisa memakai brand “Cold Palmer” untuk merchandise atau kampanye komersial. Kontrak pemain sepakbola umumnya tidak mencakup hak kekayaan intelektual yang didaftarkan secara terpisah seperti ini.
Artinya? Jika Chelsea ingin menjual kaos bertuliskan “Cold Palmer” atau menggunakan selebrasinya dalam iklan resmi klub, mereka harus duduk bernegosiasi dengan Palmer Management Limited dan kemungkinan membayar royalti. Hal yang sama berlaku untuk sponsor Palmer, mereka semua butuh lisensi khusus untuk memanfaatkan merek dagang tersebut.
Bukan Sekadar Julukan, Selebrasi Juga Didaftarkan
Palmer tidak berhenti di situ. Dia juga mengajukan pendaftaran terpisah untuk mendaftarkan selebrasi “menggigil”—gerakan ikoniknya melipat tangan di dada sambil berpura-pura kedinginan. Pendaftaran ini belum disetujui, tapi jika lolos, Palmer akan memiliki hak eksklusif atas representasi visual selebrasi tersebut.
Perlu dicatat: trademark ini tidak melarang pemain lain melakukan gerakan serupa di lapangan. Morgan Rogers dari Aston Villa, yang justru menginspirasi selebrasi tersebut, tetap bebas melakukannya. Tapi brand dan perusahaan tidak boleh menggunakan gambar atau video selebrasi itu untuk menjual produk tanpa izin Palmer.
Bergabung dengan Liga Elit: Messi, Ronaldo, dan Para CEO Sepakbola
Palmer bukan pionir dalam strategi ini. Dia bergabung dengan daftar pemain yang sudah lebih dulu memahami nilai ekonomi dari personal branding mereka:
Cristiano Ronaldo memiliki trademark untuk “CR7” dan selebrasi “Siuuu!” yang kini jadi imperium bisnis global dengan produk mulai dari parfum, hotel, hingga pakaian dalam.
Lionel Messi melalui pertarungan hukum sembilan tahun melawan brand sepeda Spanyol, Massi, untuk mendaftarkan namanya dan akhirnya menang pada 2020.
Palmer mengambil semua pelajaran ini dan mengeksekusinya dengan menunjukkan bahwa generasi baru pemain sepakbola memahami bahwa karier di lapangan bisa berakhir kapan saja, tapi brand yang dibangun bisa bertahan selamanya.
Analisa: Atlet Masa Depan adalah Pembisnis
Langkah Palmer mencerminkan pergeseran paradigma dalam industri sepakbola modern. Dulu, pemain bergantung pada klub dan sponsor untuk mengatur citra mereka. Kini, mereka mengambil kendali penuh atas aset terbesar mereka: diri mereka sendiri.
Dengan mendaftarkan “Cold Palmer”, Palmer tidak hanya melindungi brandnya dari pembajakan, dia juga membuka pintu revenue stream jangka panjang yang tidak terikat dengan performa di lapangan. Bahkan ketika dia pensiun nanti, produk-produk bermerek “Cold Palmer” bisa terus dijual, dilisensikan, atau dikembangkan menjadi franchise.
Yang lebih menarik, dia tidak menunggu hingga tua atau pensiun untuk berpikir tentang bisnis. Cole Palmer membangunnya sambil tetap bermain di level tertinggi. Ini adalah contoh untuk atlet generasi baru: bermain seperti bintang, berpikir seperti CEO.
(Magang UIN Bandung/Adit Ramadhan)











