BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Jauh dari riuhnya debur ombak Pangandaran, sebuah desa di perbukitan Kecamatan Parigi tumbuh menjadi destinasi yang menawarkan wajah lain dari Kabupaten Pangandaran. Namanya Desa Selasari, sebuah kampung yang sejuk, hijau, dan pelan-pelan menjelma menjadi salah satu desa wisata paling menjanjikan di Jawa Barat.
Tak butuh waktu lebih dari 30 menit berkendara dari kawasan pantai. Begitu memasuki wilayah Selasari, hawa yang lebih dingin mulai menyergap, seolah mengundang setiap pengunjung untuk lebih lama tinggal. Jalanan yang mulus memudahkan wisatawan menuju berbagai sudut desa yang kini tengah menggeliat oleh pariwisata berbasis alam dan budaya.
Sejak masuk ke dalam 50 besar nominasi Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021, nama Selasari kian melambung. Namun perkembangan ini bukanlah kebetulan, melainkan buah dari kerja keras masyarakat yang melihat potensi alamnya bukan sekadar ruang hidup, tetapi juga ruang petualangan.
Baca Juga:
Desa Wisata Jalatrang Jadi Percontohan Model Kolaborasi Baru Pengembangan Pariwisata di Ciamis
1. Sungai Santirah
Di antara semua pesona Selasari, Sungai Santirah barangkali adalah yang paling memikat. Airnya jernih, dinding-dinding tebingnya alami, dan suasananya begitu tenang, setidaknya sebelum suara tawa para wisatawan mulai terdengar saat memulai river tubing.
Tubing di Santirah tak sekadar menyusuri air. Selama 1,5 kilometer, pengunjung akan melewati empat gua eksotis, air terjun alami, dan sejumlah titik yang memacu adrenalin. Para pemandu lokal kerap membuat permainan kecil, lengkap dengan ajakan meloncat dari tebing bagi yang ingin menguji nyali.
Sambil mengarungi sungai, wisatawan akan merasa seolah berada di “koridor rahasia” alam Pangandaran yang tenang tetapi penuh kejutan. Di akhir perjalanan, pemandu telah siap dengan foto-foto terbaik, memastikan setiap momen petualangan itu terekam sempurna.
2. Gua Lanang
Tak jauh dari aliran Santirah, Gua Lanang menawarkan petualangan yang berbeda. Dengan panjang sekitar 364 meter, gua ini bukan hanya menarik bagi pecinta caving berpengalaman, tetapi juga ramah untuk pemula.
Di dalam gua, udara lembap dan suara tetesan air menciptakan suasana yang menegangkan namun menenangkan. Alur batuan, ruangan gua yang lapang, dan cerita-cerita dari pemandu lokal membuat penjelajahan semakin hidup. Tak sedikit wisatawan yang mengaku menjelajahi Gua Lanang seperti melintasi perut bumi yang menyimpan kisah purba.
3. Pepedan Hills
Jika Selasari dinobatkan sebagai desa dengan lanskap paling unik di Pangandaran, salah satu alasannya adalah Pepedan Hills. Dari puncaknya, wisatawan bisa melihat sunrise dan sunset di satu titik yang sama, fenomena yang jarang ditemukan di destinasi bukit lain.
Pagi hari langitnya keemasan, sementara sore menghadirkan jingga yang membelai lekuk-lekuk bukit. Tak heran Pepedan Hills menjadi tempat favorit para pemburu foto. Pengelola desa telah menyiapkan berbagai spot swafoto, tetapi sejatinya, keindahan Pepedan Hills sudah cukup berfoto tanpa banyak ornamen.
4. Tradisi, Musik, dan Aroma Dapur Selasari
Selasari bukan sekadar wisata alam. Desa ini juga menyimpan kekayaan budaya yang kuat, dari ronggeng gunung, angklung buhun, hingga kolotok. Meski tidak ditampilkan setiap hari, pertunjukan seni ini bisa dihadirkan khusus untuk wisatawan melalui pemesanan, memberi pengalaman eksklusif yang tak banyak ditemukan di destinasi desa wisata lain.
Tak lengkap rasanya berada di Selasari tanpa mencicipi kuliner lokal. Dua yang paling diburu adalah:
- Pindang gunung, sop ikan berkuah rempah yang hangat dan segar, cocok disantap di udara sejuk perbukitan.
- Pakis krispi, olahan daun pakis yang digoreng dengan tepung berbumbu, renyah di luar, lembut di dalam.
Bagi banyak pelancong, kedua kuliner ini menjadi penutup sempurna setelah seharian berpetualang.
Keberadaan Desa Selasari sebagai destinasi wisata bukanlah sekadar tren. Ia adalah bukti bahwa ketika masyarakat merawat dan mengelola potensi alam dengan hati, sebuah desa bisa menjadi ruang petualangan yang hidup bagi siapa pun yang datang.
(Budis)











