BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Seorang desainer perhiasan asal Alabama, Amerika Serikat, bernama Slater Jones, sukses membuat dunia terperangah dengan inovasi yang tak biasa.
Ia menanamkan berlian asli seberat 2 karat ke dalam mata prostetiknya, menjadikannya salah satu mata palsu paling mewah di dunia.
Aksinya ini sontak viral di media sosial karena memadukan seni, keberanian, dan kemewahan dalam satu wujud yang menakjubkan.
Jones kehilangan penglihatannya di mata kanan akibat penyakit serius. Namun alih-alih larut dalam kesedihan, ia memilih untuk menjadikan pengalaman tersebut sebagai titik balik dalam hidupnya.
Bersama ahli prostetik ternama John Lim, ia merancang mata buatan yang bukan hanya tampak realistis, tetapi juga berkilau seperti permata sejati ketika terkena cahaya.
“Aku kehilangan mataku, tapi hal itu justru membawa cahaya baru dalam hidupku,” ujar Slater.
Dari Tragedi Jadi Karya Seni
Langkah berani Jones bukan sekadar upaya estetika. Ia ingin membuktikan bahwa kehilangan bukan akhir dari segalanya, melainkan kesempatan untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Dengan berlian yang tertanam di mata prostetiknya, Slater menjadikan dirinya simbol seni hidup menggabungkan antara kemewahan, kreativitas, dan keteguhan hati.
Desain mata prostetiknya juga menunjukkan tingkat ketelitian luar biasa. Batu berlian yang digunakan bukan hanya pajangan, melainkan ditanam secara presisi agar tidak mengganggu fungsi dan kenyamanan.
Tak heran, hasil akhirnya terlihat begitu natural namun tetap memancarkan kemewahan yang memukau.
Baca Juga:
Uya Kuya Beberkan Pengkhianatan oleh Orang Dekat soal Viral Joget DPR
Reaksi Publik Terbelah
Kisah Slater Jones memancing berbagai reaksi dari publik dunia. Banyak yang memuji langkah inovatifnya sebagai perpaduan sempurna antara seni dan keberanian.
Namun, ada pula yang menyuarakan kekhawatiran terkait keamanan mata berlian tersebut apalagi mengingat nilainya yang tinggi dan posisinya yang begitu mencolok.
Meski demikian, Jones tampak tak gentar. Ia terus membagikan kisahnya di media sosial dan menginspirasi banyak orang untuk berani mengekspresikan diri dengan cara unik.
Bagi Slater, mata berliannya bukan sekadar perhiasan, melainkan lambang bagaimana kehilangan bisa diubah menjadi cahaya baru.
(Hafidah Rismayanti/Budis)











