JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Rumah tangga selebgram Clara Shinta dan suaminya, Muhammad Alexander Assad, sedang berada di fase paling rapuh.
Isu panas terkait dugaan panggilan video asusila (VCS) yang menyeret nama Tri Indah R alias Keyndah menjadi pemicu retakan yang kini sulit disembunyikan.
Kabur ke Bangkok, Cari Nafas di Tengah Badai
Alih-alih menghadapi tekanan publik, pasangan ini memilih menjauh.
Mereka terbang ke Bangkok, Thailand Bukan untuk liburan, tapi untuk menyelamatkan hubungan yang nyaris karam.
Langkah ini diungkap oleh pengacara sekaligus sahabat mereka, Sunan Kalijaga.
“Mereka hanya berdua di sana, anak-anak di rumah,” ungkap Sunan, Selasa (31/3/2026).
Masih Sekamar, Tapi Jarak Tak Lagi Sama
Meski badai sedang menerjang, hubungan keduanya belum benar-benar runtuh.
Fakta bahwa mereka masih menginap dalam satu kamar menjadi sinyal: pintu damai belum tertutup.
Namun jangan salah, kedekatan fisik tidak selalu berarti hati sudah kembali utuh.
Sunan Jadi Penengah, Redam Emosi Clara
Di tengah emosi yang disebut masih membara, Sunan mencoba memainkan peran sebagai penyeimbang.
Ia menjembatani komunikasi, meredam konflik, sekaligus mendorong keduanya berpikir lebih jernih.
Salah satu sarannya terdengar sederhana, tapi bermakna:
keluar kamar, hirup udara segar, dan berhenti tenggelam dalam pikiran sendiri.
Isu pihak ketiga menjadi pusat dari seluruh kekacauan ini.
Namun Muhammad Alexander Assad secara tegas membantah.
“Enggak ada hubungan,” kata Sunan menirukan pernyataan Alex.
Bagi sebagian orang, ini bisa jadi pembelaan. Bagi yang lain, ini belum cukup.
Kekhilafan atau Pengkhianatan?
Sunan mencoba membingkai masalah ini sebagai “kekhilafan sesaat”, bukan hubungan serius.
Narasi ini jelas punya tujuan: menenangkan Clara, sekaligus membuka ruang maaf.
Tapi di mata publik, garis antara khilaf dan pengkhianatan sering kali tipis dan penuh perdebatan.
Baca Juga:
Keyndah Ambruk Usai Diterpa Isu VCS dengan Suami Clara Shinta
Cupi Cupita Dituding Rebut Tunangan Orang, Instagram Diserbu Netizen
Kasus ini sekali lagi menunjukkan bagaimana kehidupan pribadi bisa berubah jadi tontonan massal dalam hitungan jam.
Di satu sisi, publik haus cerita.
Di sisi lain, ada keluarga yang sedang berusaha tidak hancur.
Sunan pun menutup dengan satu harapan: agar masalah ini selesai tanpa campur tangan berlebihan dari luar.
Namun dalam realitas media sosial hari ini, harapan itu sering kali terdengar lebih ideal daripada nyata.
(Dist)











