BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Petenis asal Jerman, Eva Lys, terus menulis kisah inspiratif dalam kariernya. Setelah sempat didiagnosa menderita penyakit autoimun rematik spondyloarthritis pada tahun 2020, petenis berusia 23 tahun itu kini kembali ke jalur prestasi dan siap menembus 50 besar dunia untuk kali pertama dalam kariernya.
Spondyloarthritis adalah kondisi peradangan kronis yang menyebabkan nyeri dan kekakuan di sekitar sendi dan tulang belakang, kondisi yang jelas sangat menghambat mobilitas atlet profesional. Lys pertama kali menerima diagnosis tersebut pada musim 2020, namun baru tahun lalu ia memutuskan untuk mengungkapkan kondisinya kepada publik.
“Saya merasa aneh dengan semua penyesuaian yang harus dilakukan. Tapi saya juga senang akhirnya mengetahui apa yang terjadi dengan tubuh saya,” ujar Lys melansir The Athletic, Minggu (5/10/2025).
Menurutnya, penyakit tersebut memaksanya untuk mengubah cara berlatih yang selama ini ia yakini sebagai kunci keberhasilan.
“Sejak kecil saya diajarkan bahwa semakin keras kamu bekerja, semakin baik hasilnya. Tapi sekarang saya harus menerima kenyataan bahwa kadang-kadang, berlatih lebih sedikit justru lebih baik,” ungkapnya.
“Kadang saya ingin berlatih sampai batas kemampuan, tapi kalau memaksakan diri, tubuh saya bisa tidak pulih untuk turnamen berikutnya. Jadi ini perasaan yang aneh mengetahui bahwa tidak terlalu keras berusaha bisa menjadi hal terbaik,” sambung Lys.
Meski menghadapi tantangan besar dalam menjaga kebugaran dan ritme permainan, Lys mampu membuktikan ketangguhannya musim ini. Di awal tahun 2025, ia tampil luar biasa di Australian Open dengan menembus babak keempat Grand Slam untuk pertama kalinya. Pencapaian tersebut menjadikannya lucky loser pertama yang mampu mencapai pekan kedua di Melbourne sejak 1988.
Baca Juga:
Kejutan Eva Lys, Singkirkan Elena Rybakina di China Open 2025
Performa impresifnya berlanjut di China Open 2025 di Beijing. Untuk pertama kalinya dalam karier, Lys berhasil melangkah hingga perempat final turnamen WTA 1000, sebelum dikalahkan petenis unggulan kedua asal Amerika Serikat, Cori Gauff.
Sebagai hasil dari rentetan prestasinya itu, Lys dipastikan akan naik 18 peringkat dunia dan menembus jajaran 50 besar WTA, sebuah pencapaian monumental mengingat kondisi fisiknya beberapa tahun terakhir.
“Musim pertama setelah diagnosis sungguh menyulitkan, mungkin sampai tahun lalu. Namun saya telah banyak berubah. Saya dan tim melakukan penyesuaian besar dalam latihan dan pemulihan. Saya masih bisa melakukan semua hal yang dilakukan petenis lain, hanya saja tubuh saya kadang membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih,” bebernya.
Dengan semangat pantang menyerah dan pendekatan baru terhadap kesehatan tubuhnya, Eva Lys kini menjadi salah satu sosok inspiratif di dunia tenis, membuktikan bahwa batasan bukanlah akhir, melainkan awal dari cara baru untuk bangkit.
(Budis)











