BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Tatapan kosong Fabio Quartararo di paddock Motegi beberapa waktu lalu seolah berkata banyak hal. Bukan sekadar kelelahan setelah balapan, tetapi sebuah kegelisahan panjang yang terus membayangi kariernya.
Juara dunia MotoGP 2021 itu kini berada di fase paling rumit dalam perjalanan profesionalnya. Di satu sisi, ia masih menjadi wajah utama Yamaha, simbol kejayaan yang tersisa dari masa lalu. Namun di sisi lain, performa motor yang tak kunjung kompetitif perlahan mengikis semangat dan kesabarannya.
“Saya hanya ingin kesempatan finis tiga besar di setiap tes,” ucap Quartararo, melansir Motosport, Rabu (12/11/2025).
Selama 18 bulan terakhir, Quartararo berulang kali mengirim pesan halus kepada pabrikan asal Iwata itu. Ia ingin perubahan nyata, bukan janji.
Baca Juga:
Fabio Quartararo Nikmati ‘Pertarungan Nostalgia’ Lawan Morbidelli di Sprint MotoGP Malaysia
Fabio Quartararo Bersikap Realistis Jelang MotoGP Prancis 2025
Yamaha sebenarnya sedang mengerjakan proyek mesin V4 yang disebut-sebut akan membawa revolusi, tapi pengujiannya baru dijadwalkan pada awal 2026, waktu yang terasa terlalu lama bagi Quartararo yang sudah menunggu bertahun-tahun.
“Apa yang Yamaha belum bisa lakukan dalam beberapa tahun, saya harap bisa mereka capai dalam beberapa bulan. Saya tidak punya waktu lagi,” tegasnya.
Tanda-tanda kegalauan itu bahkan mulai terlihat di luar lintasan. Beberapa kali Quartararo muncul di paddock tanpa mengenakan atribut tim, sebuah simbol diam yang banyak dibaca sebagai bentuk kejenuhan. Bagi Yamaha, yang masih membayar sang bintang sekitar 10 juta Euro per tahun, gestur itu menjadi alarm keras.
Seiring masuknya Paolo Pavesio menggantikan Lin Jarvis di posisi manajemen, arah Yamaha pun berubah. Jika sebelumnya mereka dikenal memberi kebebasan penuh bagi rider utama, kini Pavesio menegaskan bahwa era tersebut sudah berakhir. Yamaha akan menatap proyek jangka panjang, fokus pada fondasi teknis dan kolaborasi internal, bukan lagi bergantung pada satu sosok.
Meski begitu, Pavesio masih berharap bisa mempertahankan Quartararo hingga 2028, dengan catatan ia siap berkomitmen penuh pada proyek baru tim.
“Kami tidak mencari kesepakatan singkat. Kami mencari masa depan yang dibangun bersama,” ujar sumber dalam Yamaha.
Namun bagi Quartararo, keputusan ini bukan sekadar tentang kontrak atau angka. Ini soal kepercayaan. Ia pernah merasakan betapa cepatnya dunia MotoGP berubah, dari puncak dunia di 2021, menjadi pebalap yang kini harus berjuang hanya untuk finis sepuluh besar.
Di saat yang sama, peluang untuk pindah ke tim besar juga semakin sempit. Ducati telah penuh, KTM dan Aprilia berkembang pesat tapi belum tentu membuka kursi, sementara Honda masih dalam tahap rekonstruksi. Semua pilihan membawa risiko, dan tak ada yang benar-benar menjanjikan.
Tekanan di kepala Quartararo kini tak hanya datang dari lintasan, tapi juga dari dirinya sendiri. Apakah ia harus tetap percaya pada Yamaha yang membesarkan namanya, atau berani mengambil langkah berisiko.
(Budis)











