JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Hasil dari survei yang dilakukan lembaga IndoStrategi, meriset responden untuk menilai kinerja para menteri. Dari hasilnya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mendapat nilai tinggi, hingga yang terburuk skor kinerja Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
Hasil riset independen dari IndoStrategi, dirilis dalam jumpa pers di Bilangan Jakarta Selatan, pada Jumat 17 Oktober 2025.
“Berdasarkan hasil penelitian kami, yang tertinggi adalah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dengan skor 3,35,” ujar Direktur Riset IndoStrategi, Ali Noer Zaman.
Ali menjelaskan, kendati Bahlil mendapatkan nilai terendah, terdapat faktor positif yang mempengaruhi penilaian Kementerian ESDM. Antara lain, program hilirisasi mineral dan pertambangan, hingga penerbitan Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang dinilai mengurangi pertambangan ilegal.
Faktor negatif yang mempengaruhi nilai Bahlil, diantaranya karena isu lingkungan yang merusak ekosistem, ketergantungan pada batu bara masih tinggi.
“Hingga aspek kinerja komunikasi publik Menteri ESDM yang masih dinilai retoris dan tidak diimbangi eksekusi konkret di lapangan,” jelasnya.
BACA JUGA:
Bahlil Puji Sosok Ini, Punya Pengaruh Hantarkan ke Karier Mentereng
Prabowo Ungkap Negara Rugi Akibat Tambang Ilegal, Netizen Salfok dengan Gestur Bahlil!
Selain Kementerian yang dipimpin Abdul Mu’ti, ada pula kementerian yang mendapat skor baik yakni Kementerian Luar Negeri (3,32), Kementerian Agama (3,26), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (3,22), dan Kementerian Pertanian (3,21).
Adapun kementerian lainnya yang juga masuk kategori skor terendah yakni Kementerian Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (2,81), Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (2,81), Kementerian Hak Asasi Manusia (2,79), Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (2,77).
Riset kualitatif IndoStrategi itu, dilakukan sejak awal September hingga 13 Oktober 2025 menggunakan metode purposive sampling.
Dari riset itu, melibatkan 424 responden dari 34 provinsi yang dipilih berdasarkan kriteria pendidikan minimal strata satu (S1), strata dua (S2), strata tiga (S3), memiliki pekerjaan tetap seperti guru, dosen, aktivis, karyawan, hingga pengusaha.
Selain wawancara langsung, riset ini juga melibatkan analisis terhadap sumber berita daring dan luring, dokumen resmi pemerintah, serta pandangan para pengamat dan akademisi.
(Saepul)











