BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Mantan petenis nomor satu dunia, Iga Swiatek, menyoroti perbedaan mencolok antara lapangan di WTA Finals 2025 dengan turnamen mana pun yang pernah ia mainkan sebelumnya. Petenis asal Polandia itu mengakui bahwa kondisi di Riyadh menghadirkan tantangan tersendiri, terutama karena faktor ketinggian dan karakter pantulan bola yang berbeda dari biasanya.
Swiatek tiba lebih awal di ibu kota Arab Saudi untuk menyesuaikan diri dengan kondisi lapangan sebelum turnamen dimulai. Petenis berusia 24 tahun itu menyebut keputusan datang lebih cepat memberinya waktu penting untuk beradaptasi.
“Saya pikir saya salah satu petenis yang pertama tiba di sini. Saya senang punya beberapa hari ekstra untuk berlatih karena kondisinya benar-benar berbeda dibandingkan turnamen lain, terutama karena ketinggiannya. Ini lucu, tapi juga menantang. Saya bersemangat memulai pertandingan pertama saya,” ujar Swiatek, melansir Sky Sports, Minggu (2/11/2025).
Kondisi di Riyadh, yang berada di dataran tinggi dan beriklim kering, membuat kecepatan bola dan pantulannya tidak sama seperti di turnamen lapangan keras lainnya di WTA Tour. Faktor tersebut diyakini akan memengaruhi gaya permainan petenis yang lebih mengandalkan pukulan baseline seperti Swiatek.
Baca Juga:
Iga Swiatek Persembahkan Gelar Korea Open 2025 sebagai Warisan Keluarga di Seoul
Memasuki WTA Finals musim ini, Swiatek datang dengan modal kuat setelah menjuarai Wimbledon, Cincinnati, dan Seoul pada 2025. Kemenangan di Riyadh akan menjadi penutup manis bagi musim gemilangnya sekaligus menambah koleksi trofi akhir musim setelah terakhir kali ia juara pada 2023.
Swiatek tergabung di Group Serena Williams bersama Amanda Anisimova, Elena Rybakina, dan Madison Keys. Partai pembuka akan mempertemukannya dengan Keys, juara Australian Open 2025 sekaligus unggulan ketujuh. Di laga lain, Anisimova (unggulan keempat) akan menantang Rybakina (unggulan keenam).
WTA Finals 2025 di Riyadh menjadi panggung besar bagi delapan petenis terbaik dunia. Bagi Swiatek, tantangan sebenarnya bukan hanya lawan-lawan tangguh di grup, tetapi juga bagaimana ia menjinakkan kondisi lapangan yang tidak biasa untuk kembali membuktikan dominasinya di akhir musim.
(Budis)











