GOWA, TEROPONGMEDIA.ID – Jemaah An-Nadzir melaksanakan Salat Idulfitri 1447 Hijriah lebih awal pada Jumat (20/3) di Kelurahan Mawang, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Pelaksanaan ini dilakukan berdasarkan metode penentuan awal Syawal yang mereka yakini sendiri.
Pimpinan jemaah An-Nadzir, Samiruddin Pademmui, menjelaskan bahwa kelompoknya memiliki pendekatan khusus dalam menentukan awal bulan Hijriah.
“Bahwasanya An-Nadzir itu memang memiliki satu metodologi tersendiri dalam pengamatan bulan. Selain memperhatikan fenomena alam, juga melihat fase-fase bulan,” ujarnya.
Ia menambahkan, penentuan tersebut tidak hanya mengandalkan perhitungan astronomi, tetapi juga mengamati berbagai tanda alam seperti hujan, petir, angin kencang, hingga pasang air laut. Semua indikator itu kemudian dikombinasikan dengan bantuan teknologi modern.
“Kita perhatikan fenomena alam, ada hujan, petir, guntur, angin bertiup agak kencang, kemudian terakhir itu pasang air laut. Setelah kita melakukan penelitian beberapa tahun, kita padukan dengan aplikasi untuk hisabnya lunar,” jelasnya.
Baca Juga:
Idul Fitri 1447 H Diprediksi Tak Serempak, Kemenag Tunggu Sidang Isbat
Menurutnya, proses rukyat atau pengamatan bulan juga dapat dilakukan tanpa alat khusus.
“Untuk rukyatnya bisa disaksikan langsung tidak perlu pakai teropong, namanya itu Sun Position Demo. Jadi setelah kita padukan semuanya, alhamdulillah tidak ada pertentangan, semuanya klop,” lanjut Samiruddin.
Jemaah An-Nadzir meyakini bahwa bulan Ramadan telah berakhir pada Kamis (19/3) sekitar pukul 09.22 WITA. Namun, pelaksanaan Salat Idulfitri baru dilakukan keesokan harinya karena pertimbangan waktu.
“Pergantian bulan itu kemarin sekitar jam 09.30. Karena tidak memungkinkan kita salat kemarin, maka kita undur pelaksanaan Id-nya Jumat hari ini tanggal 20,” tuturnya.
Usai pelaksanaan salat, ratusan jemaah terlihat saling bersalaman dan bermaaf-maafan sebagai bagian dari tradisi perayaan Idul Fitri.
Selain jemaah An-Nadzir, pelaksanaan Salat Idulfitri pada hari yang sama juga dilakukan oleh warga Muhammadiyah di sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan.











