BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Fenomena perpindahan kewarganegaraan atlet Rusia kembali mencuri perhatian. Kali ini, giliran Kamilla Rakhimova, petenis peringkat 55 dunia yang resmi meninggalkan bendera lama dan memperkuat Uzbekistan, sebagaimana dikonfirmasi langsung oleh Federasi Tenis Uzbekistan.
Keputusan ini menambah panjang daftar atlet Rusia yang memilih jalur serupa sejak konflik Rusia–Ukraina pecah dan dunia olahraga membatasi partisipasi atlet Negeri Beruang Merah.
Rakhimova, yang sejak 2019 bersinar dalam tur WTA dan telah meraih sejumlah gelar tunggal maupun ganda, sebenarnya masih bungkam soal alasan personalnya. Namun, banyak yang membaca langkah ini sebagai keputusan realistis demi karier bukan perubahan identitas.
Hal ini dikuatkan oleh pernyataan ketua tenis Rusia Shamil Tarpischev.
“Itu bukan pengkhianatan. Ia tetap orang Rusia, hanya mengubah kewarganegaraan olahraga. Perpindahan ini terjadi karena Olimpiade,” ucapnya, dikutip dari championat, Rabu (12/3/2025).
Dengan status netral yang melekat pada atlet Rusia di turnamen internasional, peluang mereka tampil di ajang besar seperti Olimpiade memang menjadi lebih sempit. Uzbekistan memberikan jalan yang jauh lebih lapang.
Faktor keluarga pun berperan: sang ibu, Rufina, pernah membela RSS Uzbekistan, sementara kakaknya lahir di Tashkent.
Federasi Tenis Uzbekistan menyebut masuknya Rakhimova sebagai momen penting. Sekjen federasi, Sador Kamilov, bahkan menyebutnya sebagai “peristiwa bersejarah.”
“Ia petenis tangguh dan kompetitif. Kami yakin ia akan mencetak rekor baru di bawah bendera Uzbekistan,” ungkapnya.
Rakhimova langsung menunjukkan performa meyakinkan di turnamen WTA 125 Angers, Prancis, dengan kemenangan telak 6-1, 6-1 atas petenis muda Rusia, Alina Korneeva.
Rakhimova bukan satu-satunya. Dalam dua tahun terakhir, dunia tenis menyaksikan banyak atlet Rusia beralih negara akibat kondisi geopolitik dan pembatasan federasi internasional.
Baca Juga:
Comeback! Emma Raducanu Bikin Geger Miami Open 2025
Beberapa nama lain:
Daria Kasatkina – pindah ke Australia setelah bersuara soal perang dan UU anti-LGBT Rusia.
Maria Timofeeva – pindah ke Uzbekistan.
Elina Avanesyan – membela Armenia.
Alexander Shevchenko – beralih ke Kazakhstan.
Fenomena ini seakan mencerminkan bahwa dunia olahraga kini tak lagi sekadar arena prestasi, tetapi juga tempat atlet mencari ruang aman untuk masa depan profesional mereka.
(Budis)











