BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Karma datang dengan cara yang paling brutal. Seorang suporter Inter Milan yang nekat melempar flare ke arah kiper Cremonese, Emil Audero, kini harus hidup dengan tiga jari putus setelah petasan kedua yang akan dilemparnya meledak di tangannya sendiri.
Insiden horor ini terjadi di Stadion Giovanni Zini pada Minggu (2/2/2026) saat Inter Milan bertandang menghadapi Cremonese dalam lanjutan Serie A. Yang membuatnya lebih ironis, Emil Audero adalah mantan kiper Inter Milan yang baru saja dipinjamkan ke Cremonese musim ini.
Kronologi: Dari Tribun ke Rumah Sakit
Pertandingan berjalan normal hingga menit-menit awal babak pertama. Tiba-tiba, sebuah flare melesat dari tribun suporter tamu Inter menuju area gawang Cremonese. Sasarannya: Emil Audero yang sedang bersiap mengamankan gawangnya.
Flare mendarat tidak jauh dari posisi Audero. Ledakan kecil dan asap tebal langsung memenuhi kotak penalti. Wasit segera menghentikan pertandingan sementara untuk memastikan keselamatan pemain.
Audero terlihat memegang wajahnya dia terkena serpihan ledakan yang menyebabkan luka sayat kecil dan bekas luka bakar ringan. Namun secara profesional, kiper berusia 27 tahun itu memutuskan untuk tetap melanjutkan pertandingan setelah mendapat perawatan medis singkat di pinggir lapangan.
Yang tidak disadari siapapun saat itu: pelaku tengah mempersiapkan serangan kedua.
Ledakan Kedua: Senjata Makan Tuan
Laporan dari Football Italia mengungkap detail yang mengejutkan. Pelaku, yang identitasnya belum diungkap secara resmi, berniat melempar flare atau petasan kedua ke lapangan. Tapi kali ini, nasib tidak berpihak padanya.
Petasan meledak di tangannya sebelum sempat dilempar.
Ledakan jarak dekat itu sangat dahsyat. Tiga jari tangan pelaku terputus seketika. Keributan langsung pecah di tribun tamu Inter bukan karena mendukung, tapi karena murka. Suporter Inter lainnya marah besar melihat ulah satu orang yang bisa membahayakan tim mereka dengan sanksi dari federasi sepakbola Italia.
Pelaku langsung dibawa keluar dari stadion dalam kondisi darurat medis. Dia tidak punya pilihan selain mencari pertolongan ke rumah sakit terdekat di Cremona dan di situlah identitasnya akhirnya terbongkar.
Baca Juga:
Emil Audero Resmi Gabung Cremonese Dengan Status Pinjaman
Tertangkap di Rumah Sakit: Ironi Paling Pahit
Bagian paling ironis adalah pelaku tertangkap bukan karena investigasi polisi atau CCTV stadion, melainkan karena dia sendiri yang datang ke rumah sakit dengan cedera parah yang jelas-jelas disebabkan oleh ledakan petasan.
Petugas medis rumah sakit Cremona langsung melaporkan kasus ini ke polisi setelah melihat kondisi cedera yang mencurigakan. Polisi kemudian mengonfirmasi bahwa pasien tersebut adalah pelaku pelemparan flare di stadion.
Media lokal Italia melaporkan bahwa pelaku kini menghadapi dua sanksi sekaligus:
- Proses hukum pidana atas tindakan membahayakan keselamatan orang lain
- Larangan masuk stadion (Daspo) yang bisa berlaku seumur hidup
Ditambah, tentu saja, kehilangan tiga jarinya secara permanen.
Reaksi Keras Beppe Marotta
Presiden Inter Milan, Beppe Marotta, tidak bisa menyembunyikan kemarahan dan rasa malunya pasca pertandingan. Dalam wawancara dengan Sky Sport Italia, dia menyebut insiden ini sebagai pengalaman terburuk dalam kariernya yang panjang di dunia sepakbola Italia.
“Situasi yang belum pernah saya alami selama bertahun-tahun dalam karier saya,” ujar Marotta dengan nada geram. “Itu adalah tindakan bodoh. Sebuah tindakan sensasional atas nama anti sportivitas.”
Yang paling mengkhawatirkan bagi Marotta adalah potensi sanksi dari federasi sepakbola Italia (FIGC). Insiden pelemparan flare yang membahayakan pemain bisa berujung pada denda berat, bahkan penutupan sebagian tribun stadion untuk pertandingan-pertandingan berikutnya.
Pujian untuk Profesionalisme Audero
Di tengah kekacauan, ada satu sosok yang tampil dengan kepala dingin: Emil Audero sendiri. Meski sempat terkena dampak ledakan flare pertama dan mengalami luka ringan, kiper asal Indonesia itu memutuskan untuk tetap bermain hingga akhir.
Keputusan Audero untuk melanjutkan pertandingan mencegah kemungkinan pertandingan dibatalkan atau ditunda yang bisa berujung pada sanksi lebih berat untuk Inter dari FIGC. Dalam arti tertentu, Audero justru menyelamatkan mantan klubnya dari konsekuensi yang lebih buruk.
Sanksi yang Menanti
Federasi Sepakbola Italia (FIGC) kini membuka investigasi penuh terhadap insiden ini. Inter Milan berpotensi mendapat sanksi berupa:
- Denda finansial yang bisa mencapai puluhan ribu euro
- Penutupan sebagian atau seluruh tribun tamu untuk beberapa pertandingan
- Pengurangan poin jika dianggap insiden ini sangat serius
Sementara untuk pelaku sendiri, sanksi yang menanti adalah:
- Tuntutan pidana atas tindakan membahayakan keselamatan publik
- Daspo atau larangan masuk stadion yang bisa berlaku 5-10 tahun, bahkan seumur hidup
- Cacat permanen akibat kehilangan tiga jari—hukuman yang sudah dia terima dari kebodohannya sendiri
Budaya Flare di Sepakbola Italia
Insiden ini kembali membuka perdebatan tentang budaya penggunaan flare dan kembang api di stadion-stadion Italia. Meski secara resmi dilarang, praktik ini masih sering terjadi, terutama di pertandingan-pertandingan besar atau derby.
Suporter Italia, terutama kelompok ultras, menganggap flare sebagai bagian dari ekspresi dukungan mereka. Tapi kejadian seperti ini membuktikan betapa berbahayanya praktik tersebut—bukan hanya untuk pemain di lapangan, tapi juga untuk suporter itu sendiri.
Pertanyaannya: apakah insiden tragis ini akan menjadi titik balik untuk mengakhiri budaya flare di stadion Italia? Atau hanya akan jadi berita sesaat sebelum kejadian serupa terulang lagi?
Hukuman terberat bagi pelaku bukan datang dari pengadilan, melainkan dari kebodohannya sendiri: hidup selamanya dengan tiga jari putus sebagai pengingat dari satu momen impulsif yang mengubah hidupnya.
(Magang UIN Bandung/Adit Ramadhan)











