BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Kasus perundungan yang terjadi di SMPN 1 Blora, Jawa Tengah, masih menjadi perhatian publik. Sejumlah siswa yang terlibat sebagai pelaku diketahui belum kembali ke sekolah, sementara korban masih mengalami trauma dan belum dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Peristiwa tersebut melibatkan 14 siswa, terdiri dari satu pelaku utama serta 13 siswa lain yang berperan sebagai provokator dan perekam video. Hingga kini, pihak sekolah belum menjatuhkan sanksi tegas seperti pemindahan sekolah, karena proses hukum masih berlangsung di kepolisian.
Guru Bimbingan Konseling (BK) SMPN 1 Blora, Anik, mengonfirmasi bahwa pihak sekolah pertama kali mengetahui kejadian itu dari sebuah video yang menampilkan aksi kekerasan terhadap korban. Ia menambahkan, beberapa siswa yang terlibat sebelumnya sudah pernah mendapat pembinaan di ruang BK.
“Awalnya kami pihak sekolah menerima laporan berupa video. Kalau pelaku utama memang baru pertama kali, tetapi beberapa pelaku lain memang sudah sering masuk ke ruang BK dan dibimbing,” ujar Anik, mengutip beritasatu, Kamis (13/11/2025).
Anik menuturkan, dari total belasan pelaku, empat siswa diketahui tidak masuk sekolah sejak insiden perundungan terjadi. Meski demikian, pihak sekolah masih menunggu hasil penyelidikan dari kepolisian sebelum mengambil keputusan terkait sanksi lanjutan.
“Belum ada keputusan pemindahan karena prosesnya masih di kepolisian. Para pelaku memang belum masuk sekolah,” jelasnya.
Sementara itu, korban yang merupakan siswa kelas VIII masih mengalami trauma mendalam dan belum dapat kembali mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Kasus ini mencuat setelah beredar video berdurasi 25 detik di media sosial yang memperlihatkan aksi kekerasan fisik di lingkungan sekolah. Peristiwa tersebut terjadi saat jam istirahat pada Jumat (7/11/2025) dan diduga dipicu oleh kesalahpahaman antara pelaku dan korban.
Baca Juga:
Polisi Selidiki Kasus Bunuh Diri Siswi MTs di Sukabumi yang Diduga Akibat Perundungan
Akibat perundungan itu, korban menderita luka fisik serta tekanan psikologis. Pihak sekolah baru mengetahui insiden tersebut setelah video tersebar luas di media sosial.
Saat ini, kasus perundungan tersebut tengah ditangani pihak kepolisian, sementara masyarakat menuntut agar sekolah menjatuhkan sanksi tegas kepada para pelaku dan memberikan pendampingan psikologis bagi korban.
(Vini Virdiyanti/_Usk)











