BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Cuaca panas ekstrem tengah melanda berbagai wilayah Indonesia dalam beberapa pekan terakhir. Melansir BRIN, Suhu udara di siang hari mencapai 35–38°C, dengan tingkat intensitas tertinggi terjadi antara pukul 11.00 hingga 16.00 WIB.
Fenomena ini bukan sekadar kondisi cuaca biasa, melainkan bagian dari perubahan iklim yang semakin nyata dan berdampak luas terhadap kesehatan, lingkungan, serta aktivitas masyarakat.
Fenomena Hot Spell
Menurut Prof. Erma Yulihastin, Profesor Riset Bidang Iklim dan Cuaca Ekstrem di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, panas ekstrem yang berlangsung selama beberapa hari disebut hot spell.
Kondisi ini menunjukkan bukti nyata perubahan iklim di Indonesia yang kini terjadi lebih sering dan lebih intens dari tahun ke tahun.
Dia menegaskan bahwa pemerintah perlu memprioritaskan solusi berbasis alam (nature-based solutions) dan modifikasi mikroklimat guna mengurangi dampak negatifnya terhadap masyarakat.
Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus melindungi warga dari risiko kesehatan akibat suhu ekstrem.
Kenapa Suhu Ekstrem Makin Sering Terjadi?
Peningkatan suhu ekstrem di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor. Di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, Pekanbaru, dan Jambi, suhu udara terasa semakin panas setiap tahunnya.
Selain akibat perubahan iklim global, aktivitas manusia, industrialisasi, serta berkurangnya ruang hijau turut memperburuk kondisi tersebut. Fenomena pulau panas perkotaan (urban heat island) menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya suhu di kawasan perkotaan.
Permukaan kota yang didominasi beton dan aspal menyerap panas matahari, menyebabkan suhu udara di sekitarnya jauh lebih tinggi dibandingkan daerah pedesaan.
Penyebab Utama Cuaca Panas Ekstrem
Fenomena panas ekstrem yang terjadi belakangan ini tidak hanya dipicu oleh faktor global, tetapi juga karena kondisi atmosfer dan posisi matahari. BRIN menjelaskan beberapa penyebab utamanya sebagai berikut:
-
Posisi semu matahari berada di selatan ekuator, membuat sinar matahari jatuh lebih tegak dan meningkatkan suhu siang hari.
-
Pembentukan bibit siklon tropis 96W di Laut Filipina menyebabkan konsentrasi awan berpindah ke wilayah utara ekuator, sehingga wilayah selatan, termasuk Indonesia, menjadi minim awan.
-
Minimnya tutupan awan menyebabkan sinar matahari langsung mencapai permukaan bumi tanpa hambatan, menjadikan udara lebih panas dan kering.
Akibat kombinasi faktor-faktor tersebut, suhu udara di siang hari melonjak drastis, khususnya di wilayah Jawa dan Nusa Tenggara.
Wilayah yang Paling Terdampak
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), beberapa wilayah Indonesia mengalami dampak paling signifikan dari cuaca panas ekstrem ini, antara lain:
-
Nusa Tenggara
-
Jawa
-
Kalimantan (bagian barat dan tengah)
-
Sulawesi (selatan dan tenggara)
-
Beberapa wilayah Papua
BMKG memperkirakan bahwa kondisi panas ekstrem ini akan bertahan hingga akhir Oktober 2025. Namun, apabila curah hujan belum turun secara merata di sebagian besar wilayah, periode suhu tinggi bisa berlangsung hingga November.
Dampak Terhadap Kesehatan
Cuaca ekstrem dengan suhu tinggi dapat menimbulkan berbagai dampak serius terhadap kesehatan. Dehidrasi, kelelahan panas (heat exhaustion), hingga serangan panas (heat stroke) menjadi risiko utama, terutama bagi anak-anak, lansia, dan pekerja lapangan.
Baca Juga:
Cara Mencegah Heatstroke yang Harus Dipahami!
Cuaca Panas Bisa Bikin Emosi Tak Stabil, Ini Penjelasan dan Cara Mengatasinya
Selain itu, panas ekstrem juga berdampak pada produktivitas kerja, ketersediaan air bersih, serta kualitas udara di daerah perkotaan. Ketika suhu meningkat, konsumsi energi untuk pendingin ruangan ikut melonjak, yang pada akhirnya dapat memperparah emisi karbon.
Langkah-Langkah Antisipasi
Untuk melindungi diri dari dampak panas ekstrem, masyarakat diimbau agar lebih waspada dan melakukan beberapa langkah antisipatif berikut:
-
Gunakan tabir surya (SPF 45–50) ketika beraktivitas di luar ruangan pada siang hari untuk melindungi kulit dari paparan sinar ultraviolet.
-
Perbanyak minum air putih agar tubuh tetap terhidrasi dan mencegah dehidrasi.
-
Waspadai perubahan cuaca mendadak, karena cuaca panas bisa tiba-tiba berubah menjadi hujan deras disertai angin kencang.
-
Batasi aktivitas fisik berat di luar ruangan, terutama pada rentang waktu suhu tertinggi, yakni antara pukul 11.00–16.00 WIB.
-
Lakukan olahraga luar ruangan di waktu yang lebih aman, seperti pukul 07.00–09.00 WIB atau 17.00–19.00 WIB.
Langkah sederhana ini dinilai efektif untuk menjaga kesehatan sekaligus mengurangi risiko paparan panas berlebih.
(Anisa Kholifatul Jannah)











